Kiasan dasar dalam kepramukaan itu merupakan salah satu metode kepramukaan di antara metode yang lainnya. Oleh karena itu, dalam setiap membina, pembina harus menerapkan kiasan dasar. Saat peserta didik berlatih tali-temali, kiasan dasar harus digunakan sebagai bungkus peserta didik dalam melakukan tali-temali. Saat peserta didik berlatih morse, kiasan dasar harus menjadi bumbunya. Saat berkemah, kiasan dasar harus digunakan untuk memperlancar kegiatan perkemahan itu. Begitulah seterusnya.
Kiasan dasar (simbolic framework) digunakan oleh pembina pramuka di dunia ini. Berkat kiasan dasar itu, peserta didik dapat lebih enjoy, lancar, dan mempercepat pemahaman melalui pengalaman tertentu. Dalam dunia pendidikan, kiasan dasar itu hampir sama dengan metakognitif. Metakognitif merupakan strategi belajar untuk menguatkan konsep melalui metafora atau kata kunci yang memudahkan belajar. Jadi, gunakanlah kiasan dasar sekuat-kuatnya.
Bagaimanakah menerapkan kiasan dasar itu? Tidaklah sulit bagi pembina dalam menerapkan kiasan dasar. "Adik-adik, hari ini, kita akan membuat jemuran agar baju basah dapat cepat kering," kata seorang pembina. Kata jemuran itu merupakan kiasan dasar. Padahal, senyatanya, peserta didik membuat ikatan melalui simpul agar terlatih daya konsentrasinya. Mereka tidak membuat jemuran senyatanya karena tidak ada baju basah yang akan dijemur. "Hari ini, kalian akan menjadi seorang pengirim informasi dari jarak jauh kepada tim penolong. Nah, ayolah gunakan morse yang dibunyikan tanpa kita melihat siapa yang membunyikan peluit itu," ucap pembina. Seorang pengirim informasi dari jarak jauh kepada tim penolong itu merupakan kiasan dasar. Begitulah seterusnya.
Kiasan dasar tidak sekadar penamaan yang sudah ada dalam Gerakan Pramuka semata. Siaga, penggalang, penegak, pandega, regu, barung, reka, adat racana, sandi, dan seterusnya merupakan bentuk kiasan dasar. Kisan dasar yang diambil berasal dari perjuangan bangsa Indonesia dari masa 1908 sampai dengan 1945. Namun, pembina jangan hanya terfokus pada kiasan dasar yang sudah ada saja. Pembina harus secara kreatif menciptakan kiasan dasar untuk tujuan pendidikan yang diasuhnya.
Buatlah kiasan dasar yang seirama dengan usia anak. Kiasan dasar itu tidak perlu rumit. Kiasan dasar harus sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kejiwaan peserta didik. Apa yang terjadi di sekitar peserta didik dapat dikiaskan. Apa yang menjadi tujuan pendidikan juga dapat dikiaskan. Jadi, tidaklah susah untuk melakukan kiasan dasar.
Dukunglah dengan semangat kibaran cita gerak pramuka bangsa ini. Berawallah dari segala penjuru demi maju dan bermutu pramuka Indonesia. Mulailah bergerak dalam riak hidup berbangsa Indonesia melalui dunia kepelatihan kepramukaan
Rabu, 17 Juli 2013
Sabtu, 08 Juni 2013
Mengenal Pudiklatda Argasonya Jawa Timur
Kala itu, sekitar tahun 1966,
setelah kwarnas menamakan pusdika dengan Candradimuka, Kolonel Laut
Muthalib yang bertugas sebagai andalan
urusan latihan Kwarda Jatim pada waktu itu, mengusulkan Dadika (Daerah
Pendidikan Pramuka) Jawa Timur dengan nama Argasonya.
Usulan tersebut diterima dengan senang hati oleh pelatih lainnya. Sampai saat
ini, Argasonya dipakai sebagai nama
tempat pelatihan kepramukaan di Jawa Timur. Cadika (Cabang Pendidikan Pramuka)
saat ini menjadi pusdikacab se-Jawa Timur sampai saat ini juga mempunyai nama
masing-masing, contohnya, Pamekasan dengan Nanggala, Ponorogo dengan Amerta,
Banyuwangi dengan Macanputih, Surabaya dengan Gunungsari, begitulah
seterusnya.
Kemudian, pada tahun 1978
dibentuklah Gelanggang Krida Pramuka (GKP) Jawa Timur di Sedati sebagai tempat
krida (kerja) para pramuka termasuk satuan karya. Pada saat itu pula, Dadika
berubah nama menjadi Lemdika yang lokasinya menyatu dengan GKP Argasonya. Pada
tahun 2011, GKP di Sedati dipindahkan ke Balongbendo dengan nama GKP Argasonya
yang di dalamnya terdapat Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda)
Jawa Timur.
Argasonya merupakan tempat
penggemblengan kepramukaan dari peserta didik, pembina, pelatih, instruktur,
orang dewasa, dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kinerja kepramukaan,
membentuk insan Indonesia yang berbudi luhur sesuai dengan cita-cita Gerakan
Pramuka. Sentuhan yang digunakan dalam penggemblengan adalah Ketulusan, Cinta
Kasih, dan Kebahagiaan dengan prinsip dan metode kepramukaan.
Argasonya diambil dari sebuah nama
padepokan (tempat pendidikan) yang diasuh oleh seorang resi jelmaan Batara
Brama. Di Argasonya itulah seorang ksatria bernama Kakrasana (saudara kembar
Prabu Kresna) bertapa, menggembleng diri, dan mencari kesejatian hidup. Setelah
selesai berguru Kakrasana berubah nama menjadi Baladewa. Dari bertapa itu, ia mendapatkan
anugerah pusaka sakti yaitu senjata Nanggala
yang berwujud angkus (mata bajak), dan Alugora
berwujud gada dengan kedua ujung yang runcing. Selain itu Baladewa juga
mendapat Aji Jaladara yang dapat
terbang dengan kecepatan tinggi.
Baladewa adalah anak Prabu
Basudewa, raja Mandura dari Ibu yang bernama Dewi Mahendra. Ia mempunyai saudara
kembar yang bernama Kresna. Walaupun lahir kembar Baladewa dan Kresna adiknya
tidak sama. Baladewa berkulit putih, sedangkan Kresna berkulit hitam cemani. Baladewa
mempunyai adik wanita bernama Bratajaya atau Sumbadra.
Walaupun Baladewa terkenal sebagai raja yang mudah marah, ia jujur, adil, dan tulus. Ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Sejak kecil Baladewa dan kedua adiknya diungsikan dan disembunyikan di kademangan Widarakandang karena mendapat ancaman mau dibunuh oleh Kangsadewa. Di kademangan Widarakandang Baladewa dan kedua adiknya diasuh oleh Demang Antyagopa dan nyai Sagopi.
Walaupun Baladewa terkenal sebagai raja yang mudah marah, ia jujur, adil, dan tulus. Ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Sejak kecil Baladewa dan kedua adiknya diungsikan dan disembunyikan di kademangan Widarakandang karena mendapat ancaman mau dibunuh oleh Kangsadewa. Di kademangan Widarakandang Baladewa dan kedua adiknya diasuh oleh Demang Antyagopa dan nyai Sagopi.
Baladewa beristeri Erawati anak
Raja Salya dari negara Mandaraka dan mempunyai dua anak laki-laki yaitu Wisata
dan Wimuna. Baladewa menjadi raja di Mandura menggantikan ayahnya Prabu
Basudewa. Nama lain dari Baladewa adalah Kakrasana, Karsana, Balarama, Wasi
Jaladara, dan Curiganata.
Pada saat perang Baratayuda
berlangsung, Baladewa justru tidak terlibat sama sekali. Hal ini disebabkan
karena rekayasa Prabu Kresna. Baladewa sengaja diselamatkan oleh Kresna dari
kemungkinan buruk yang bakal menimpanya, yaitu dengan meminta Baladewa bertapa
di Grojogan sewu. Tujuannya agar Baladewa tidak mendengar suara gemuruh perang,
karena tertutup oleh suara air terjun. Baru ketika perang Baratayuda sudah
usai, Baladewa sadar bahwa ia ditipu oleh adiknya. Baladewa meninggal dalam
usia lanjut. Ia sempat menyaksikan penobatan Prabu Parikesit menjadi raja
Hastinapura. Baladewa wafat menyusul Kresna adiknya yang terlebih dahulu muksa.
Selasa, 31 Januari 2012
SBY Berikan Lencana Tunas Kencana kepada Raja Swedia
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan
Lencana Tunas Kencana kepada Raja Swedia Carl XVI Gustaf. Presiden SBY
pun memuji kontribusi Raja Swedia di bidang kepramukaan.
Raja Carl XVI, menurut SBY, selama ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar untuk memberdayakan organisasi pramuka di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
"Pengabdian Anda di bidang gerakan kepramukaan menjadi inspirasi, tak hanya di Swedia, tetapi juga di Indonesia," kata Presiden SBY di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2012).
SBY juga bangga atas partisipasi pramuka Indonesia pada program Duta Perdamaian (Messenger of Peace) yang digagas oleh Raja Swedia Carl XVI dan Raja Arab Abdullah.
"Saya bangga Gerakan Pramuka Indonesia telah mengambil peran aktif dalam program Duta Perdamaian yang digagas World Scout Foundation," terang SBY.
Penghargaan Lencana Tunas Kencana adalah tanda penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka yang pernah diberikan kepada tokoh-tokoh gerakan pramuka, antara lain Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Presiden pertama RI Soekarno, dan juga Presiden Yudhoyono.
Selama di Indonesia Raja Swedia juga telah menyumbangkan dana 500.000 dollar AS untuk program Duta Perdamaian. Carl XVI sendiri rencananya besok akan mengunjungi kota gudeg Yogyakarta.
Raja Carl XVI, menurut SBY, selama ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar untuk memberdayakan organisasi pramuka di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
"Pengabdian Anda di bidang gerakan kepramukaan menjadi inspirasi, tak hanya di Swedia, tetapi juga di Indonesia," kata Presiden SBY di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2012).
SBY juga bangga atas partisipasi pramuka Indonesia pada program Duta Perdamaian (Messenger of Peace) yang digagas oleh Raja Swedia Carl XVI dan Raja Arab Abdullah.
"Saya bangga Gerakan Pramuka Indonesia telah mengambil peran aktif dalam program Duta Perdamaian yang digagas World Scout Foundation," terang SBY.
Penghargaan Lencana Tunas Kencana adalah tanda penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka yang pernah diberikan kepada tokoh-tokoh gerakan pramuka, antara lain Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Presiden pertama RI Soekarno, dan juga Presiden Yudhoyono.
Selama di Indonesia Raja Swedia juga telah menyumbangkan dana 500.000 dollar AS untuk program Duta Perdamaian. Carl XVI sendiri rencananya besok akan mengunjungi kota gudeg Yogyakarta.
Pusdiklatda Kepramukaan Jawa Timur Adakan Karang Pamitran
Sebanyak 110 pelatih se-Jatim ikuti Karang Pamitran di Pusdiklatda Kepramukaan Jawa Timur, Balongbendo, 28--29 Januari 2012 yang lalu. Mereka membedah persiapan akreditasi pusdiklatcab, sertifikasi pembina, bedah buku panduan pembina, dan mendiskusikan PP Sisdiklat no 202 2011. Acara Karang Pamitran berjalan dengan lancar. "Banyak masukan yang berharga dari peserta," kata Suyatno, selaku kapusdiklatda kepramukaan Jawa Timur.
Ke depan, laju kerpamukaan di Jawa Timur akan menemukan kemajuan setelah muncul kesadaran para andalan cabang yang membidangi pelatihan, orang dewasa, dan pembinaan anggota muda berkumpul bersama untuk menguatkan kepramukaan di cabang masing-masing. Itulah yang tampak dari acara karang pamitran selama dua hari itu.
Kak Bambang SW, selaku waka Binawasa Kwarda Jawa Timur turut mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. "Ini awal yang bagus di tahun 2012 dalam melakukan pembinaan kepramukaan," selorohnya. Tampak pula, beberapa pelatih seperti Boedi Oetomo, Purbo Santoso, dan Nurhayati mendampingi peserta Karang Pamitran.
Ke depan, laju kerpamukaan di Jawa Timur akan menemukan kemajuan setelah muncul kesadaran para andalan cabang yang membidangi pelatihan, orang dewasa, dan pembinaan anggota muda berkumpul bersama untuk menguatkan kepramukaan di cabang masing-masing. Itulah yang tampak dari acara karang pamitran selama dua hari itu.
Kak Bambang SW, selaku waka Binawasa Kwarda Jawa Timur turut mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. "Ini awal yang bagus di tahun 2012 dalam melakukan pembinaan kepramukaan," selorohnya. Tampak pula, beberapa pelatih seperti Boedi Oetomo, Purbo Santoso, dan Nurhayati mendampingi peserta Karang Pamitran.
Selasa, 10 Januari 2012
Raimuna Nasional 2012 di Papua Layak Diikuti para Penegak dan Pandega
Inilah kesempatan paling berharga dan berkesan bagi penegak dan pandega se-Indonesia untuk berpetualang di bumi Papua melalui kegiatan akbar Raimuna Nasional
2012. Betapa tidak. Lokasi perkemahan di Kota Jayapura, tepatnya di Kecamatan Waena, selatan kota, antara Jayapura dan Abepura. Lokasi bukit yang dekat dengan pantai Yos Sudarso dengan panorama indah antara laut, bukit, hutan, dan kota. Waena dekat dengan bandara Sentani dan dekat pula dari pelabuhan dengan angkutan mikrolet yang sangat mudah ditemui dan murah.
Jika penegak dan pandega menginginkan petualang di Kampung Sentani, perjalanan yang ditempuh cukup 30 menit dengan mikrolet arah Bandara Sentani. Dari mikrolet terlihat Danau Sentani yang menawan, alami, dan menyegarkan mata. Kalau pun akan ke pantai, peserta dapat naik mikrolet ke arah Pasar Hamadi yang dipenuhi dengan kios souvenir Papua yang murah meriah, yakni koteka, patung Asmad, lukisan kulit kayu, panah bambu, keong terompet, pakaian tari Papua, dan sebagainya. Harga sangat murah asalkan harus pandai menawar. Para pedagang souvenir rata-rata orang Bugis.
Kalau sore, penegak dan pandega dapat berjalan-jalan ke kota dengan mikrolet kira-kira 30 menit dari lokasi Raimuna, jika tidak macet untuk melihat pasar Mama-Mama di jalan Percetakan> pasar tersebut dipenuhi oleh penjual ibu-ibu Papua dengan sistem tradisional. Mereka teramat ramah dan mudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Kembali ke Waena, penegak pandega jangan takut akan lokasi perkemahan kaena berada di Bukit Waena yang beriklim sedang dan dikelilingi oleh bangunan sekolah dan kantor lainnya. Jadi, bukan berkemah di tengah hutan belantara seperti yang dibayangkan kawan-kawan lain. Masalah keamanan jangan khawatir. Warga Papua sangat bersaudara dengan sesama. Mereka suka dengan kawan baru. Jika berita gencar terdapat penembakan, itu hanya masalah politik di lokasi lain yang jauh dari Jayapura.
Apalagi, Raimuna Nasional 2012 rencananya diselenggarakan Jayapura, Provinsi Papua, akan dikombinasi dengan pesta budaya masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS) pada 19-23 Juni. Tentu, kegiatan itu akan lebih mengautkan pengalaman bagi yang turut serta. Ketua Harian Kwartir Pramuka Cabang Papua Amos Asmuruf mengatakan, penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua kepada seluruh peserta raimuna. "Kami berusaha agar pelaksanaan Raimuna Nasional yang diselenggarakan di sini (Papua) bersamaan FDS," katanya.
Kebetulan pula, akhir Desember 2011, pengelola Blog ini sempat mengunjungi Waena ketika bertugas meneliti Karakter Bangsa di Jayapura. Jadi, dapat dipastikan Raimuna akan memberikan kesan menantang bagi penegak dan pandega.Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Provinsi Papua mengatakan jajaran Kwartir Cabang Pramuka kabupaten se Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda nasional Raimuna nasional di tanah Papua.Sebagai tuan rumah Raimuna nasional daerah tersebut akan dikunjungi sekitar 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.
Untuk menghadapi event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012 pihak Kwarda Papua sedang menyiapkan sarana fisik bumi perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Jika penegak dan pandega menginginkan petualang di Kampung Sentani, perjalanan yang ditempuh cukup 30 menit dengan mikrolet arah Bandara Sentani. Dari mikrolet terlihat Danau Sentani yang menawan, alami, dan menyegarkan mata. Kalau pun akan ke pantai, peserta dapat naik mikrolet ke arah Pasar Hamadi yang dipenuhi dengan kios souvenir Papua yang murah meriah, yakni koteka, patung Asmad, lukisan kulit kayu, panah bambu, keong terompet, pakaian tari Papua, dan sebagainya. Harga sangat murah asalkan harus pandai menawar. Para pedagang souvenir rata-rata orang Bugis.
Kalau sore, penegak dan pandega dapat berjalan-jalan ke kota dengan mikrolet kira-kira 30 menit dari lokasi Raimuna, jika tidak macet untuk melihat pasar Mama-Mama di jalan Percetakan> pasar tersebut dipenuhi oleh penjual ibu-ibu Papua dengan sistem tradisional. Mereka teramat ramah dan mudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Kembali ke Waena, penegak pandega jangan takut akan lokasi perkemahan kaena berada di Bukit Waena yang beriklim sedang dan dikelilingi oleh bangunan sekolah dan kantor lainnya. Jadi, bukan berkemah di tengah hutan belantara seperti yang dibayangkan kawan-kawan lain. Masalah keamanan jangan khawatir. Warga Papua sangat bersaudara dengan sesama. Mereka suka dengan kawan baru. Jika berita gencar terdapat penembakan, itu hanya masalah politik di lokasi lain yang jauh dari Jayapura.
Apalagi, Raimuna Nasional 2012 rencananya diselenggarakan Jayapura, Provinsi Papua, akan dikombinasi dengan pesta budaya masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS) pada 19-23 Juni. Tentu, kegiatan itu akan lebih mengautkan pengalaman bagi yang turut serta. Ketua Harian Kwartir Pramuka Cabang Papua Amos Asmuruf mengatakan, penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua kepada seluruh peserta raimuna. "Kami berusaha agar pelaksanaan Raimuna Nasional yang diselenggarakan di sini (Papua) bersamaan FDS," katanya.
Kebetulan pula, akhir Desember 2011, pengelola Blog ini sempat mengunjungi Waena ketika bertugas meneliti Karakter Bangsa di Jayapura. Jadi, dapat dipastikan Raimuna akan memberikan kesan menantang bagi penegak dan pandega.Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Provinsi Papua mengatakan jajaran Kwartir Cabang Pramuka kabupaten se Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda nasional Raimuna nasional di tanah Papua.Sebagai tuan rumah Raimuna nasional daerah tersebut akan dikunjungi sekitar 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.
Untuk menghadapi event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012 pihak Kwarda Papua sedang menyiapkan sarana fisik bumi perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Kamis, 24 November 2011
Memaknai Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka merupakan salah satu metode kepramukaan di samping metode yang lainnya yang mampu membawa peserta didik ke tingkat pemahaman yang kuat. Namun, saat ini, kiasan dasar hanya dimaknai sebagai simbol sejarah bangsa, dengan istilah siaga, penggalang, penegak, dan pandega sebagai wujud pergerakan nasional. Padahal, kiasan dasar merupakan terjemahan dari simbolic framework sebagai metode yang harus digunakan secara aplikatif dalam kegiatan kepramukaan.
Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.
Manusia dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol. Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan.
Manusia bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui simbol-simbol.
Nenek moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu sebagai simbol penunjuk arah, petani ketika ia akan menanam padi menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia.
Mead (dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25) bahkan mengatakan bahwa symbolic-frame ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia. Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”. Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek (me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita disebut dengan “kontrol diri”.
Kiasan Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih, (symbolic-frame), maka ia dapat ditumbuhi berbagai metode sebagaimana:
a. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan (learning by doing);
c. sistem berkelompok (sistem beregu);
d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e. kegiatan di alam terbuka;
f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h. kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring dengan hakekat tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989 (dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat tujuan pendidikan adalah:
a. self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur dan sebagainya;
b. securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu pekerjaan;
c. rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak” yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya;
d. maintaining proper social and political relationship, setiap manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara, oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e. enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
Kiasan Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan petualangan dengan cara:
a. Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b. Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c. Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d. Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok.
Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan dihadapi.
Penerapan kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya.
Nama-nama peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri.
Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan.
Anggota Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri kepada masyarakat.
Di Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini.
Nama Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun 1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan.
Diungkapkannya nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Nama Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan.
Kiasan dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan “upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa, dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah, diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di masing-masing golongan tersebut.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air, cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui komunitas sosial Gerakan Pramuka.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”. Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai luhur tersebut sebagai bagian dari character building melalui pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri handayani”.
Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu yakni:
Prinsip Dasar Kepramukaan
Metode Kepramukaan
Kode Kehormatan
Motto Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.
Kiasan Dasar sebagai symbolic frame berperan mendukung konsistensi kehidupan peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan, ambalan, racana maupun di masyarakat.
Penutup
Kiasan dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.
Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.
Manusia dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol. Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan.
Manusia bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui simbol-simbol.
Nenek moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu sebagai simbol penunjuk arah, petani ketika ia akan menanam padi menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia.
Mead (dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25) bahkan mengatakan bahwa symbolic-frame ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia. Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”. Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek (me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita disebut dengan “kontrol diri”.
Kiasan Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih, (symbolic-frame), maka ia dapat ditumbuhi berbagai metode sebagaimana:
a. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan (learning by doing);
c. sistem berkelompok (sistem beregu);
d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e. kegiatan di alam terbuka;
f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h. kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring dengan hakekat tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989 (dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat tujuan pendidikan adalah:
a. self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur dan sebagainya;
b. securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu pekerjaan;
c. rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak” yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya;
d. maintaining proper social and political relationship, setiap manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara, oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e. enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
Kiasan Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan petualangan dengan cara:
a. Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b. Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c. Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d. Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok.
Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan dihadapi.
Penerapan kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya.
Nama-nama peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri.
Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan.
Anggota Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri kepada masyarakat.
Di Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini.
Nama Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun 1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan.
Diungkapkannya nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Nama Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan.
Kiasan dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan “upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa, dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah, diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di masing-masing golongan tersebut.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air, cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui komunitas sosial Gerakan Pramuka.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”. Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai luhur tersebut sebagai bagian dari character building melalui pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri handayani”.
Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu yakni:
Prinsip Dasar Kepramukaan
Metode Kepramukaan
Kode Kehormatan
Motto Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.
Kiasan Dasar sebagai symbolic frame berperan mendukung konsistensi kehidupan peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan, ambalan, racana maupun di masyarakat.
Penutup
Kiasan dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.
WOSM, Organisasi Kepramukaan Dunia
WOSM (World Organization Scout Movement), organisasi kepramukaan dunia, berbasis di Jenewa, Swiss, WOSM (atau OMMS dalam bahasa Prancis) mewakili sebagian besar dari semua Pramuka laki-laki dunia, dan hampir 13% dari Pramuka perempuan. Ada 202 asosiasi Pramuka nasional di WOSM ditambah 20 federasi (karena WOSM hanya akan mengenali satu asosiasi Pramuka di setiap negara, asosiasi nasional beberapa yang ingin menjadi bagian dari WOSM harus membuat-dan keuangan-sebuah federasi payung nasional untuk mewakili mereka dengan WOSM). Organisasi kepramukaan berada di tiap negara yang berkantor pusat di 160 negara ditambah Palestina, ditambah tiga asosiasi memiliki asosiasi cabang di 8 negara lebih.
WOSM memulai program pada tahun 1908, di awal kepramukaan negara-negara di luar Inggris memandang Baden-Powell sebagai pembimbing dan penginspirasi. Lalu, kebutuhan untuk sebuah payung organisasi internasional diperlukan, dan pada tahun 1922 sejumlah asosiasi nasional Pramuka membuat WOSM. Sementara sebagian besar anggota WOSM adalah mahasiswi pada beberapa tingkatan, menjadi anggota WOSM, dan yang lain berinduk pada WAGGGS (World Association of Girl Guides and Scout).
Langganan:
Postingan (Atom)