Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan
Lencana Tunas Kencana kepada Raja Swedia Carl XVI Gustaf. Presiden SBY
pun memuji kontribusi Raja Swedia di bidang kepramukaan.
Raja
Carl XVI, menurut SBY, selama ini telah memberikan kontribusi yang
sangat besar untuk memberdayakan organisasi pramuka di seluruh dunia,
termasuk Indonesia.
"Pengabdian Anda di bidang gerakan
kepramukaan menjadi inspirasi, tak hanya di Swedia, tetapi juga di
Indonesia," kata Presiden SBY di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara,
Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2012).
SBY juga bangga atas
partisipasi pramuka Indonesia pada program Duta Perdamaian (Messenger of
Peace) yang digagas oleh Raja Swedia Carl XVI dan Raja Arab Abdullah.
"Saya
bangga Gerakan Pramuka Indonesia telah mengambil peran aktif dalam
program Duta Perdamaian yang digagas World Scout Foundation," terang
SBY.
Penghargaan Lencana Tunas Kencana adalah tanda penghargaan
tertinggi Gerakan Pramuka yang pernah diberikan kepada tokoh-tokoh
gerakan pramuka, antara lain Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan
Hamengkubuwono IX, Presiden pertama RI Soekarno, dan juga Presiden
Yudhoyono.
Selama di Indonesia Raja Swedia juga telah
menyumbangkan dana 500.000 dollar AS untuk program Duta Perdamaian. Carl
XVI sendiri rencananya besok akan mengunjungi kota gudeg Yogyakarta.
Dukunglah dengan semangat kibaran cita gerak pramuka bangsa ini. Berawallah dari segala penjuru demi maju dan bermutu pramuka Indonesia. Mulailah bergerak dalam riak hidup berbangsa Indonesia melalui dunia kepelatihan kepramukaan
Selasa, 31 Januari 2012
Pusdiklatda Kepramukaan Jawa Timur Adakan Karang Pamitran
Sebanyak 110 pelatih se-Jatim ikuti Karang Pamitran di Pusdiklatda Kepramukaan Jawa Timur, Balongbendo, 28--29 Januari 2012 yang lalu. Mereka membedah persiapan akreditasi pusdiklatcab, sertifikasi pembina, bedah buku panduan pembina, dan mendiskusikan PP Sisdiklat no 202 2011. Acara Karang Pamitran berjalan dengan lancar. "Banyak masukan yang berharga dari peserta," kata Suyatno, selaku kapusdiklatda kepramukaan Jawa Timur.
Ke depan, laju kerpamukaan di Jawa Timur akan menemukan kemajuan setelah muncul kesadaran para andalan cabang yang membidangi pelatihan, orang dewasa, dan pembinaan anggota muda berkumpul bersama untuk menguatkan kepramukaan di cabang masing-masing. Itulah yang tampak dari acara karang pamitran selama dua hari itu.
Kak Bambang SW, selaku waka Binawasa Kwarda Jawa Timur turut mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. "Ini awal yang bagus di tahun 2012 dalam melakukan pembinaan kepramukaan," selorohnya. Tampak pula, beberapa pelatih seperti Boedi Oetomo, Purbo Santoso, dan Nurhayati mendampingi peserta Karang Pamitran.
Ke depan, laju kerpamukaan di Jawa Timur akan menemukan kemajuan setelah muncul kesadaran para andalan cabang yang membidangi pelatihan, orang dewasa, dan pembinaan anggota muda berkumpul bersama untuk menguatkan kepramukaan di cabang masing-masing. Itulah yang tampak dari acara karang pamitran selama dua hari itu.
Kak Bambang SW, selaku waka Binawasa Kwarda Jawa Timur turut mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. "Ini awal yang bagus di tahun 2012 dalam melakukan pembinaan kepramukaan," selorohnya. Tampak pula, beberapa pelatih seperti Boedi Oetomo, Purbo Santoso, dan Nurhayati mendampingi peserta Karang Pamitran.
Selasa, 10 Januari 2012
Raimuna Nasional 2012 di Papua Layak Diikuti para Penegak dan Pandega
Inilah kesempatan paling berharga dan berkesan bagi penegak dan pandega se-Indonesia untuk berpetualang di bumi Papua melalui kegiatan akbar Raimuna Nasional
2012. Betapa tidak. Lokasi perkemahan di Kota Jayapura, tepatnya di Kecamatan Waena, selatan kota, antara Jayapura dan Abepura. Lokasi bukit yang dekat dengan pantai Yos Sudarso dengan panorama indah antara laut, bukit, hutan, dan kota. Waena dekat dengan bandara Sentani dan dekat pula dari pelabuhan dengan angkutan mikrolet yang sangat mudah ditemui dan murah.
Jika penegak dan pandega menginginkan petualang di Kampung Sentani, perjalanan yang ditempuh cukup 30 menit dengan mikrolet arah Bandara Sentani. Dari mikrolet terlihat Danau Sentani yang menawan, alami, dan menyegarkan mata. Kalau pun akan ke pantai, peserta dapat naik mikrolet ke arah Pasar Hamadi yang dipenuhi dengan kios souvenir Papua yang murah meriah, yakni koteka, patung Asmad, lukisan kulit kayu, panah bambu, keong terompet, pakaian tari Papua, dan sebagainya. Harga sangat murah asalkan harus pandai menawar. Para pedagang souvenir rata-rata orang Bugis.
Kalau sore, penegak dan pandega dapat berjalan-jalan ke kota dengan mikrolet kira-kira 30 menit dari lokasi Raimuna, jika tidak macet untuk melihat pasar Mama-Mama di jalan Percetakan> pasar tersebut dipenuhi oleh penjual ibu-ibu Papua dengan sistem tradisional. Mereka teramat ramah dan mudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Kembali ke Waena, penegak pandega jangan takut akan lokasi perkemahan kaena berada di Bukit Waena yang beriklim sedang dan dikelilingi oleh bangunan sekolah dan kantor lainnya. Jadi, bukan berkemah di tengah hutan belantara seperti yang dibayangkan kawan-kawan lain. Masalah keamanan jangan khawatir. Warga Papua sangat bersaudara dengan sesama. Mereka suka dengan kawan baru. Jika berita gencar terdapat penembakan, itu hanya masalah politik di lokasi lain yang jauh dari Jayapura.
Apalagi, Raimuna Nasional 2012 rencananya diselenggarakan Jayapura, Provinsi Papua, akan dikombinasi dengan pesta budaya masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS) pada 19-23 Juni. Tentu, kegiatan itu akan lebih mengautkan pengalaman bagi yang turut serta. Ketua Harian Kwartir Pramuka Cabang Papua Amos Asmuruf mengatakan, penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua kepada seluruh peserta raimuna. "Kami berusaha agar pelaksanaan Raimuna Nasional yang diselenggarakan di sini (Papua) bersamaan FDS," katanya.
Kebetulan pula, akhir Desember 2011, pengelola Blog ini sempat mengunjungi Waena ketika bertugas meneliti Karakter Bangsa di Jayapura. Jadi, dapat dipastikan Raimuna akan memberikan kesan menantang bagi penegak dan pandega.Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Provinsi Papua mengatakan jajaran Kwartir Cabang Pramuka kabupaten se Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda nasional Raimuna nasional di tanah Papua.Sebagai tuan rumah Raimuna nasional daerah tersebut akan dikunjungi sekitar 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.
Untuk menghadapi event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012 pihak Kwarda Papua sedang menyiapkan sarana fisik bumi perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Jika penegak dan pandega menginginkan petualang di Kampung Sentani, perjalanan yang ditempuh cukup 30 menit dengan mikrolet arah Bandara Sentani. Dari mikrolet terlihat Danau Sentani yang menawan, alami, dan menyegarkan mata. Kalau pun akan ke pantai, peserta dapat naik mikrolet ke arah Pasar Hamadi yang dipenuhi dengan kios souvenir Papua yang murah meriah, yakni koteka, patung Asmad, lukisan kulit kayu, panah bambu, keong terompet, pakaian tari Papua, dan sebagainya. Harga sangat murah asalkan harus pandai menawar. Para pedagang souvenir rata-rata orang Bugis.
Kalau sore, penegak dan pandega dapat berjalan-jalan ke kota dengan mikrolet kira-kira 30 menit dari lokasi Raimuna, jika tidak macet untuk melihat pasar Mama-Mama di jalan Percetakan> pasar tersebut dipenuhi oleh penjual ibu-ibu Papua dengan sistem tradisional. Mereka teramat ramah dan mudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Kembali ke Waena, penegak pandega jangan takut akan lokasi perkemahan kaena berada di Bukit Waena yang beriklim sedang dan dikelilingi oleh bangunan sekolah dan kantor lainnya. Jadi, bukan berkemah di tengah hutan belantara seperti yang dibayangkan kawan-kawan lain. Masalah keamanan jangan khawatir. Warga Papua sangat bersaudara dengan sesama. Mereka suka dengan kawan baru. Jika berita gencar terdapat penembakan, itu hanya masalah politik di lokasi lain yang jauh dari Jayapura.
Apalagi, Raimuna Nasional 2012 rencananya diselenggarakan Jayapura, Provinsi Papua, akan dikombinasi dengan pesta budaya masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS) pada 19-23 Juni. Tentu, kegiatan itu akan lebih mengautkan pengalaman bagi yang turut serta. Ketua Harian Kwartir Pramuka Cabang Papua Amos Asmuruf mengatakan, penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua kepada seluruh peserta raimuna. "Kami berusaha agar pelaksanaan Raimuna Nasional yang diselenggarakan di sini (Papua) bersamaan FDS," katanya.
Kebetulan pula, akhir Desember 2011, pengelola Blog ini sempat mengunjungi Waena ketika bertugas meneliti Karakter Bangsa di Jayapura. Jadi, dapat dipastikan Raimuna akan memberikan kesan menantang bagi penegak dan pandega.Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Provinsi Papua mengatakan jajaran Kwartir Cabang Pramuka kabupaten se Papua diharapkan menyiapkan diri menyambut agenda nasional Raimuna nasional di tanah Papua.Sebagai tuan rumah Raimuna nasional daerah tersebut akan dikunjungi sekitar 10.000 anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.
Untuk menghadapi event nasional Pramuka di tanah Papua tahun 2012 pihak Kwarda Papua sedang menyiapkan sarana fisik bumi perkemahan Pramuka di Buper Waena, terutama menyangkut fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Kamis, 24 November 2011
Memaknai Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka merupakan salah satu metode kepramukaan di samping metode yang lainnya yang mampu membawa peserta didik ke tingkat pemahaman yang kuat. Namun, saat ini, kiasan dasar hanya dimaknai sebagai simbol sejarah bangsa, dengan istilah siaga, penggalang, penegak, dan pandega sebagai wujud pergerakan nasional. Padahal, kiasan dasar merupakan terjemahan dari simbolic framework sebagai metode yang harus digunakan secara aplikatif dalam kegiatan kepramukaan.
Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.
Manusia dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol. Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan.
Manusia bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui simbol-simbol.
Nenek moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu sebagai simbol penunjuk arah, petani ketika ia akan menanam padi menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia.
Mead (dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25) bahkan mengatakan bahwa symbolic-frame ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia. Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”. Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek (me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita disebut dengan “kontrol diri”.
Kiasan Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih, (symbolic-frame), maka ia dapat ditumbuhi berbagai metode sebagaimana:
a. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan (learning by doing);
c. sistem berkelompok (sistem beregu);
d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e. kegiatan di alam terbuka;
f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h. kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring dengan hakekat tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989 (dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat tujuan pendidikan adalah:
a. self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur dan sebagainya;
b. securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu pekerjaan;
c. rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak” yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya;
d. maintaining proper social and political relationship, setiap manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara, oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e. enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
Kiasan Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan petualangan dengan cara:
a. Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b. Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c. Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d. Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok.
Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan dihadapi.
Penerapan kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya.
Nama-nama peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri.
Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan.
Anggota Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri kepada masyarakat.
Di Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini.
Nama Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun 1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan.
Diungkapkannya nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Nama Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan.
Kiasan dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan “upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa, dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah, diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di masing-masing golongan tersebut.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air, cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui komunitas sosial Gerakan Pramuka.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”. Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai luhur tersebut sebagai bagian dari character building melalui pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri handayani”.
Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu yakni:
Prinsip Dasar Kepramukaan
Metode Kepramukaan
Kode Kehormatan
Motto Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.
Kiasan Dasar sebagai symbolic frame berperan mendukung konsistensi kehidupan peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan, ambalan, racana maupun di masyarakat.
Penutup
Kiasan dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.
Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.
Manusia dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol. Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan.
Manusia bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui simbol-simbol.
Nenek moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu sebagai simbol penunjuk arah, petani ketika ia akan menanam padi menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia.
Mead (dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25) bahkan mengatakan bahwa symbolic-frame ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia. Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”. Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek (me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita disebut dengan “kontrol diri”.
Kiasan Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih, (symbolic-frame), maka ia dapat ditumbuhi berbagai metode sebagaimana:
a. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan (learning by doing);
c. sistem berkelompok (sistem beregu);
d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e. kegiatan di alam terbuka;
f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h. kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).
Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring dengan hakekat tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989 (dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat tujuan pendidikan adalah:
a. self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur dan sebagainya;
b. securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu pekerjaan;
c. rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak” yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya;
d. maintaining proper social and political relationship, setiap manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara, oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e. enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
Kiasan Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan petualangan dengan cara:
a. Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b. Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c. Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d. Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok.
Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan dihadapi.
Penerapan kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya.
Nama-nama peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri.
Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan.
Anggota Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri kepada masyarakat.
Di Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini.
Nama Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun 1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan.
Diungkapkannya nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Nama Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan.
Kiasan dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan “upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa, dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah, diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di masing-masing golongan tersebut.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air, cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui komunitas sosial Gerakan Pramuka.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”. Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.
Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai luhur tersebut sebagai bagian dari character building melalui pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri handayani”.
Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu yakni:
Prinsip Dasar Kepramukaan
Metode Kepramukaan
Kode Kehormatan
Motto Gerakan Pramuka
Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.
Kiasan Dasar sebagai symbolic frame berperan mendukung konsistensi kehidupan peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan, ambalan, racana maupun di masyarakat.
Penutup
Kiasan dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.
WOSM, Organisasi Kepramukaan Dunia
WOSM (World Organization Scout Movement), organisasi kepramukaan dunia, berbasis di Jenewa, Swiss, WOSM (atau OMMS dalam bahasa Prancis) mewakili sebagian besar dari semua Pramuka laki-laki dunia, dan hampir 13% dari Pramuka perempuan. Ada 202 asosiasi Pramuka nasional di WOSM ditambah 20 federasi (karena WOSM hanya akan mengenali satu asosiasi Pramuka di setiap negara, asosiasi nasional beberapa yang ingin menjadi bagian dari WOSM harus membuat-dan keuangan-sebuah federasi payung nasional untuk mewakili mereka dengan WOSM). Organisasi kepramukaan berada di tiap negara yang berkantor pusat di 160 negara ditambah Palestina, ditambah tiga asosiasi memiliki asosiasi cabang di 8 negara lebih.
WOSM memulai program pada tahun 1908, di awal kepramukaan negara-negara di luar Inggris memandang Baden-Powell sebagai pembimbing dan penginspirasi. Lalu, kebutuhan untuk sebuah payung organisasi internasional diperlukan, dan pada tahun 1922 sejumlah asosiasi nasional Pramuka membuat WOSM. Sementara sebagian besar anggota WOSM adalah mahasiswi pada beberapa tingkatan, menjadi anggota WOSM, dan yang lain berinduk pada WAGGGS (World Association of Girl Guides and Scout).
Gerakan Pramuka Perkuat Pramuka Perguruan Tinggi
Gerakan Pramuka bertekad memperkuat gerakan di tingkat perguruan tinggi untuk mempersiapkan pemuda sebagai generasi penerus menghadapi tantangan bangsa. Komitmen tersebut mengemuka pada Pertemuan Nasional Pramuka Perguruan Tinggi bertema Revitalisasi Pola Pembinaan dan Pengembangan Pramuka Perguruan Tinggi berdasarkan Undang-Undang Nomor 12/2010 tentang Gerakan Pramuka di Makassar, Minggu.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar menjelaskan, alasan memperkuat gerakan pramuka di perguruan tinggi karena pemuda di tingkatan tersebut masih labil dan membutuhkan nilai-nilai kebaikan untuk menyaring pengaruh-pengaruh buruk. Pada tingkatan tersebut pemuda akan memasuki fase kerja dan membutuhkan keterampilan dan banyak yang tidak dapat memperoleh pekerjaan karena tidak punya keterampilan. Melalui gerakan pramuka keterampilan tersebut bisa diperoleh. Alasan lainnya adalah karena pemuda di tingkatan tersebut sangat kritis namun sekaligus memiliki potensi besar yang dapat diarahkan dan digerakkan dengan nilai-nilai kebaikan.
"Memberikan perhatian khusus di tingkat perguruan tinggi juga agar gerakan berjalan secara berkesinambungan bagi mereka yang telah aktif di pramuka pada jenjang pendidikan sebelumnya," katanya menambahkan, gugus depan perguruan tinggi memang ketinggalan. Ia mengharapkan, pertemuan yang diikuti oleh 26 perguruan tinggi ini menjadi tahap pertama pertemuan nasional sesungguhnya.
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo yang juga Ketua Kwarda Provinsi Sulsel mengatakan, pramuka adalah bagian untuk menjawab tantangan bangsa ke depan melalui pembentukan jati diri, karakter dan idealisme nasionalisme pemuda. "Saya berharap pertemuan ini semakin memperteguh gerakan pramuka. Pramuka harus jalan untuk menjaga bangsa," ujarnya. Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin Nasaruddin Salam, selaku tuan rumah mengatakan, inti dari pertemuan ini adalah upaya pembentukan mahasiswa sebagai insan berkarakter melalui gerakan pramuka.
Selain seminar yang akan digelar di Makassar, rangkaian kegiatan juga akan digelar Kabupaten Bantaeng dan Bulukumba. Staf Ahli Kemenpora bidang Revitalisasi Pramuka Amran Razak mengatakan, dengan meningkatkan gairah pramuka di kampus diharapkan dapat menjadi penangkal bentuk-bentuk konflik seperti tawuran.(ANT)
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar menjelaskan, alasan memperkuat gerakan pramuka di perguruan tinggi karena pemuda di tingkatan tersebut masih labil dan membutuhkan nilai-nilai kebaikan untuk menyaring pengaruh-pengaruh buruk. Pada tingkatan tersebut pemuda akan memasuki fase kerja dan membutuhkan keterampilan dan banyak yang tidak dapat memperoleh pekerjaan karena tidak punya keterampilan. Melalui gerakan pramuka keterampilan tersebut bisa diperoleh. Alasan lainnya adalah karena pemuda di tingkatan tersebut sangat kritis namun sekaligus memiliki potensi besar yang dapat diarahkan dan digerakkan dengan nilai-nilai kebaikan.
"Memberikan perhatian khusus di tingkat perguruan tinggi juga agar gerakan berjalan secara berkesinambungan bagi mereka yang telah aktif di pramuka pada jenjang pendidikan sebelumnya," katanya menambahkan, gugus depan perguruan tinggi memang ketinggalan. Ia mengharapkan, pertemuan yang diikuti oleh 26 perguruan tinggi ini menjadi tahap pertama pertemuan nasional sesungguhnya.
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo yang juga Ketua Kwarda Provinsi Sulsel mengatakan, pramuka adalah bagian untuk menjawab tantangan bangsa ke depan melalui pembentukan jati diri, karakter dan idealisme nasionalisme pemuda. "Saya berharap pertemuan ini semakin memperteguh gerakan pramuka. Pramuka harus jalan untuk menjaga bangsa," ujarnya. Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin Nasaruddin Salam, selaku tuan rumah mengatakan, inti dari pertemuan ini adalah upaya pembentukan mahasiswa sebagai insan berkarakter melalui gerakan pramuka.
Selain seminar yang akan digelar di Makassar, rangkaian kegiatan juga akan digelar Kabupaten Bantaeng dan Bulukumba. Staf Ahli Kemenpora bidang Revitalisasi Pramuka Amran Razak mengatakan, dengan meningkatkan gairah pramuka di kampus diharapkan dapat menjadi penangkal bentuk-bentuk konflik seperti tawuran.(ANT)
Editor: Ruslan Burhani
Minggu, 20 November 2011
Perkembangan Gerakan Pramuka Dunia
Tak lama setelah buku Scouting For Boys diterbitkan, Pramuka mulai dikenal di seluruh Inggris danIrlandia. Gerakannya sendiri, secara perlahan tapi pasti, mulai dicoba dan diterapkan diseluruh wilayah kerajaan Inggris dan koloninya.
Unit kepanduan di luar wilayah kerajaan Inggris yang pertama diakui keberadaannya, dibentuk di Gilbraltar pada tahun 1908, yang kemudian diikuti oleh pembentukan unit lainnya di Malta. Kanada ialah koloni Inggris pertama yang mendapat izin dari kerajaan Inggris untuk mendirikan gerakan kepanduan, diikuti oleh Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Chili ialah negara pertama diluar Inggris dan koloninya yang membentuk gerakan kepanduan. Parade Pramuka pertama diadakan di Crystal Palace, London pada tahun 1910. Parade tersebut menarik minat para remaja di Inggris. Tidak kurang dari 10.000 remaja putra dan putri tertarik untuk bergabung dalam kegiatan kepanduan. Pada 1910 Argentina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, India, Meksiko, Belanda, Norwegia, Russia, Singapura, Swedia, dan Amerika Serikat tercatat telah memiliki organisasi kepramukaan.
Semenjak didirikan, Gerakan Pramuka yang memfokuskan program pada remaja usia 11-18 tahun telah mendapat respon yang menggembirakan, anggota bertambah dengan cepat. Kebutuhan program pun dengan sendirinya bertambah. Untuk memenuhi keinginan dan ketertarikan para generasi muda pada saat itu, gerakan pramuka menambah empat program dalam organisasinya untuk melebarkan lingkup keanggotaan gerakan pramuka. Keempat prpogram tersebut meliputi : Pendidikan Generasi Muda usia dini, Usia Remaja, pendidikan kepanduan putri, dan pendidikan kepemimpinan bagi pembina.
Program untuk golongan siaga, unit Satuan Karya, dan Penegak/pandega mulai disusun pada akhir tahun 1910 di beberapa negara. Terkadang, kegiatan kegiatan tersebut hanya berawal di tingkat lokal/ ranting yang dikelola dalam skala kecil, baru kemudian diakui dan diadopsi oleh kwartir nasional. Kasus serupa terjadi pada pendirian golongan siaga di Amerika Serikat, yang program golongan siaganya telah dimulai sejak 1911 di tingkat ranting namun belum mendapatkan pengakuan hingga 1930.
Sejak awal didirikannya gerakan kepanduan, para remaja putri telah mengisyaratkan besarnya minat mereka untuk bergabung. Untuk mengakomodasi minat tersebut, Agnes Baden Powell —adik dari bapak kepanduan sedunia, Robert Baden Powell,— pada tahun 1910 ditunjuk menjadi presiden organiasi kepanduan putri pertama di dunia. Agnes pada awalnya menamakan organisasi tersebutRosebud, yang kemudian berganti menjadi Brownies (Girl Guide) pada 1914. Agnes mundur dari kursi presiden pada tahun 1917 dan digantikan oleh Olive Baden Powell, istri dari Lord Baden-Powell. Agnes tetap menjabat sebagai wakil presiden hingga ia meninggal pada usia 86 tahun. Pada waktu tersebut, kepanduan putri telah diposisikan sebagai unit terpisah dari kepanduan pria, hal tersebut dilakukan menimbang norma sosial yang berlaku saat tersebut. Pada era 90-an, Banyak organisasi kepanduan di dunia yang saling bekerjasama antara unit putra dan putri untuk memberikan pendidikan kepanduan.
Program awal bagi pendidikan pembina diadakan di London pada tahun 1910, dan di Yorkshire pada tahun 1911. Namun, Baden Powell menginginkan pendidikan tersebut dapat dipraktekkan semaksimal mungkin. Hal tersebut berarti bahwa dalam setiap pendidikan diperlukan praktek lapangan semisal berkemah. Hal ini membimbing pembentukan kursus Woodbadge. Akibat Perang Dunia I, pendidikan woodbadge bagi para pembina tertunda hingga tahun 1919. Pada tahun tersebut, diadakan kursus woodbadge pertama di Gilwell Park. Pada saat ini, pendidikan bagi pembina telah beragam dan memiliki cakupan yang luas. Beberapa pendidikan yang cukup terkenal bagi pembina, seperti Pendidikan dasar, Pendidikan spesifik golongan, hingga kursus Woodbadge.
Langganan:
Postingan (Atom)