Minggu, 20 November 2011

Sejarah Gerakan Pramuka Dunia


Gerakan ini dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden-Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania raya, dan William Alexander Smith, pendiri Boy's Brigade, mengadakan perkemahan kepanduan pertama (dikenal sebagaijamboree) di Kepulauan Brownsea, Inggris.
Idemm untuk mengadakan gerakan tersebut muncul ketika Baden-Powell dan pasukannya berjuang mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan, dari serangan tentara Boer. Ketika itu, pasukannya kalah besar dibandingkan tentara Boer. Untuk mengakalinya, sekelompok pemuda dibentuk dan dilatih untuk menjadi tentara sukarela. Tugas utama mereka adalah membantu militer mempertahankan kota. Mereka mendapatkan tugas-tugas yang ringan tapi penting; misalnya mengantarkan pesan yang diberikan Baden-Powell ke seluruh anggota militer di kota tersebut. Pekerjaan itu dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga pasukan Baden-Powell dapat mempertahankan kota Mafeking selama beberapa bulan. Sebagai penghargaan atas keberhasilan yang mereka dapatkan, setiap anggota tentara sukarela tersebut diberi sebuah lencana. Gambar dari lencana ini kemudian digunakan sebagai logo dari gerakan Pramuka internasional.
Keberhasilan Baden-Powell mempertahankan kota Mafeking membuatnya dianggap menjadi pahlawan. Dia kemudian menulis sebuah buku yang berjudul Aids to Scouting (ditulis tahun 1899), dan menjadi buku terlaris saat itu.
Pada tahun 1906, Ernest Thompson Seton mengirimkan Baden-Powell sebuah buku karyanya yang berjudul The Birchbark Roll of the Woodcraft Indians. Seton, seorang keturunan Inggris-Kanada yang tinggal di Amerika Serikat, sering mengadakan pertemuan dengan Baden-Powell dan menyusun rencana tentang suatu gerakan pemuda.
Pertemuannya dengan Seton tersebut mendorongnya untuk menulis kembali bukunya, Aids to Scouting, dengan versi baru yang diberi judul Boy's Patrols. Buku tersebut dimaksudkan sebagai buku petunjuk kepanduan bagi para pemuda ketika itu. Kemudian, untuk menguji ide-idenya, dia mengadakan sebuah perkemahan untuk 21 pemuda dari berbagai lapisan masyarakat selama seminggu penuh, dimulai pada tanggal 1 Agustus, di kepulauan Brownsea, Inggris. Metode organisasinya (sekarang dikenal dengan sistem patroli atau patrol system dalam bahasa Inggris) menjadi kunci dari pelatihan kepanduan yang dilakukannya. Sistem ini mengharuskan para pemuda untuk membentuk beberapa kelompok kecil, kemudian menunjuk salah satu di antara mereka untuk menjadi ketua kelompok tersebut.
Setelah bukunya diterbitkan dan perkemahan yang dilakukannya berjalan dengan sukses, Baden-Powell pergi untuk sebuah tur yang direncanakan oleh Arthur Pearson untuk mempromosikan pemikirannya ke seluruh Inggris. Dari pemikirannya tersebut, dibuatlah sebuah buku berjudulScouting fo Boys, yang saat ini dikenal sebagai buku panduan kepramukaan (Boy Scout Handbook) edisi pertama.
Saat itu Baden-Powell mengharapkan bukunya dapat memberikan ide baru untuk beberapa oraganisasi pemuda yang telah ada. Tapi yang terjadi, beberapa pemuda malah membentuk sebuah organisasi baru dan meminta Baden-Powell menjadi pembimbing mereka. Ia pun setuju dan mulai mendorong mereka untuk belajar dan berlatih serta mengembangkan organisasi yang mereka dirikan tersebut.
Seiring dengan bertambahnya jumlah anggota, Baden-Powell semakin kesulitan membimbing mereka; Ia membutuhkan asisten untuk membantunya. Oleh karena itu, ia merencanakan untuk membentuk sebuah Pusat Pelatihan Kepemimpinan bagi Orang Dewasa (Adult Leadership Training Center). Pada tahun 1919, sebuah taman di dekat London dibeli sebagai lokasi pelatihan tersebut. Ia pun menulis buku baru yang berjudul Aids to Scoutmastership dan beberapa buku lainnya yang kemudian ia kumpulkan dan disatukan dalam buku berjudul Rovering to Success for Rover Scoutspada tahun 1922.
Sekalipun Gerakan Kepanduan didirikan Baden-Powell, tetapi ia banyak terinspirasi Frederick Russell Burnham, org Amerika yg membantu Inggris di Afsel. Burnham banyak belajar tehnik hidup di alam bebas dr ayahnya yg menjadi pastor di tempat penampungan (reservasi) orang Indian. Burnham yg sukses menghadapi beberapa perang pemberontakan Indian, lalu pergi ke Afsel & berkenalan dg Baden-Powell di Perang Boer. Dari Burnham lah Baden-Powell menyusun berbagai ketrampilan2 dasar yg diperlukan seorang Boy Scout (Pandu). Terinspirasi org Indian. Selanjutnya di Gerakan Kepanduan, Burnham diangkat sebagai “Kepala Suku” pertama dari gerakan yg didirikan Baden-Powell. scout is game (Sumber: Wikipedia)

Para Kepala Sekolah di Kota Madiun Ikuti Orientasi Kepramukaan

Tampaknya, para kepala sekolah pun tidak mau ketinggalan dalam perkembangan Gerakan Pramuka saat ini. Mereka, sejumlah 150 para kepala sekolah SD sampai SMA/SMK, ikuti kursus orientasi yang dilaksanakan oleh Kwarcab Kota Madiun pada 16 November 2011 di Aula SMKN 3 Kota Madiun. Kursus dibuka oleh kakwarcab Madiun dan dilanjutkan acara inti.

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata salah satu peserta saat memperhatikan UU Gerakan Pramuka dipaparkan oleh Kak Purmadi, waka Kwarda Jatim sebagai pemateri saat itu. Mereka yakin bahwa Gerakan Pramuka akan menjadi wahana bagi pendidikan nonformal generasi muda Madiun. Pemateri berikutnya adalah Kak Suyatno dengan menguatkan fungsi mabi serta cara rpaktis menjadi seorang mabi.

Kursus Pelatih Dasar (KPD) di Pondok Putri Gontor 1 Ngawi Berjalan Lancar

Tidak henti-hentinya Kwarda Jawa Timur menambah jumlah pelatih putri untuk mengisi kekosongan pelatih putri selama ini. KPD sebagai kursus bagi asisten pelatih dilaksanakan pada 18 s.d. 24 November 2011 di Pondok Putri Gontor 1 Mantingan Ngawi Jawa Timur dengan peserta 108. KPD dibagi ke dalam dua kelas, putra dan putri terpisah. KPD tersebut difasilitasi oleh 10 pelatih dari berbagai kwarcab di jawa Timur.

Kursus terlihat dinamis dengan ditandai oleh antusiasme peserta dalam mendalami dunia kepelatihan. Acara yang dibuka oleh waka kwardam kak Bambang SW itu terlihat bertumpu pada peserta sebagai subjek. Peserta tidak ada hentinya mendalami kepelatihan kepramukaan lewat tugas-tugas yang teramat menarik dan menantang. Apalagi, peserta juga membawa makalah yang ditulisnya untuk dipresentasikan di sela-sela kursus.

Mabi Kwarcab Banyuwangi Adakan Orientasi Kepramukaan

Para majelis pembimbing kwarcab Banyuwangi mendalami kepramukaan sampai tuntas pada Rabu, 17 November 2011 di Aula SMKN 1 Glagah Banyuwangi. Mereka terdiri atas para kapolsek, danramil, kepala dinas, kepala bagian, sekretaris kabupaten, istri bupati, dan pengurus kwarcab dengan serius mendalami UU Gerakan Pramuka, Fungsi Mabi, dan Pengelolaan Gugus Depan. Acara dimulai sejak pukul 9.00 sampai pukul 13.00 dengan pemateri Kak Purmadi dan Kak Suyatno dari Kwarda Jawa Timur.

Kak Purmadi, pada kesempatan itu, menegaskan kembali posisi Gerakan Pramuka dalam pembangunan karakter bangsa melalui eksplorasi isi UU Gerakan Pramuka. Kak Suyatno, selaku kapusdiklatda mengupas tentang latar belakang mengapa kepramukaan harus wajib diberikan ke anak-anak Indonesia. Dengan gaya yang khas, Kak Yatno, begitu biasa dipanggil, memotivasi para peserta agar teramat paham terhadap peran kepramukaan bagi penumbuhkembangan generasi di Indonesia, khususnya di Banyuwangi.


Jumat, 11 November 2011

Pelatih Pembina Pramuka Ponorogo Lakukan Penyegaran pelatihi

Tiada hari tanpa belajar. Itulah pernyataan yang tepat untuk para pelatih pembina pramuka kwarcab Ponorogo. Betapa tidak. Sekitar 150 pelatih berkumpul di gedung Amarta kwarcab Ponorogo pada Selasa, 8 November 2011 untuk bersama-sama menyegarkan diri dalam topik Pelatihan Segmental, Pelatih Generasi K, dan Manajemen Risiko, yang difasilitasi oleh Dr. Suyatno, M.Pd. selaku Kapusdiklatda Kepramukaan Kwarda Jawa Timur dan Supari Singoputu, S.H. selaku andalan nasional bidang humas. Acara berlangsung dari pukul 8.30 s.d. 13.30 dengan suasana penuh dengan kebersamaan.

Penyegaran pelatih yang diikuti oleh generasi senior dan yunior itu dibuka oleh kakwarcab Ponorogo, Yuni Widyaningsih, S.H. Dalam sambutannya, kakwarcab yang pernah mengikuti jambore daerah itu menekankan bahwa pelatih itu harus tiada henti untuk belajar sehingga dicapai pembaharuan gerakan pramuka. "Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamangkubuwono IX juga tidak pernah berhenti untuk belajar", katanya.

Senin, 25 Juli 2011

Gerakan Pramuka di Sekolah, Hidup Enggan Mati Tak Mau



Oleh Suyatno

Suatu ketika, seorang pembina pramuka di sekolah geleng-geleng kepala setelah melihat pendaftar ekstrakurikuler pramuka sangat sedikit, bahkan berada pada hitungan jari sepuluh jika dibandingkan dengan ekstrakurikuler lainnya, semisal basket, paskibraka, tari, KIR, dan lainnya. Hal itu terjadi hampir tiap tahun dan terus merosot jumlahnya sampai pada akhirnya ditutup atau ditiadakan untuk ekstrakurikuler Gerakan Pramuka. Lalu, dengan bangganya, kepala sekolah menyatakan, “Di sekolah kami, pramuka tidak diminati”. Pernyataan itu diamini oleh guru-guru lainnya. Sempurnalah, Gerakan Pramuka telah mati di sekolah.

Jika merunut ke belakang, setelah ditandatangani kerjasama antara dirjen dikdasmen (waktu itu) depdikbud dan kakwarnas di tahun 1975, Gerakan Pramuka wajib ada di sekolah sebagai wadah pembinaan kepramukaan yang berpangkalan di sekolah. Kerjasama itu sampai sekarang tidak pernah dicabut. Bahkan, Gerakan Pramuka di sekolah semakin dikuatkan UU no 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, dokumen KTSP, dan kerjasama lima menteri, yang di dalamnya terdapat menteri pendidikan. Artinya, Gerakan Pramuka wajib di selenggarakan di pangkalan sekolah, baik dari SD, SMP/MTs/SMA/MA/SMK. Bahkan, di perguruan tinggi, Gerakan Pramuka juga wajib diselenggarakan setelah lahir surat kerjasama dirjen dikti dengan kakwarnas tahun 1981.

Jadi, tampaklah jelas bahwa Gerakan Pramuka bukan ekstrakurikuler yang disamakan dengan kegiatan lainnya. Jika disamakan, tentu, Gerakan Pramuka tidak akan diminati karena sifatnya yang tidak mendatangkan prestasi, tidak ada pergelaran, dan tidak instan. Gerakan Pramuka bersifat pendidikan nilai yang berprinsip pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga. Gerakan Pramuka lebih pada melengkapi pendidikan formal di bangku sekolah dengan menitikberatkan pada pendidikan alam terbuka dan kemasyarakatan.

Bisa jadi, siswa yang ikut ekstrakurikuler basket juga harus aktif di Gerakan Pramuka pangkalan sekolah sehingga akan menjadi pebasket yang jujur, berani, ksatria, dan lainnya yang sesuai dengan kode etik Gerakan Pramuka. Begitu pula, siswa yang turut serta di ekstra selain basket, dia akan mempunyai nilai yang kuat untuk bekal hidupnya kelak. Nilai itu didapatkan dari keikutsertaannya di pangkalan Gerakan Pramuka di sekolah yang lazimnya disebut gugusdepan (gudep).

Tentu, ke depan, para kepala sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan di satuannya, yang juga disebut sebagai ketua majelis pembimbing gudep, harus mengubah paradigma kepramukaan di sekolah. Kepala sekolah tidak dapat tinggal diam kenyataan yang terjadi di sekolahnya berkaitan dengan Gerakan Pramuka.

Sebuah sekolah, sebut saja SMA Dul-Dul, telah mempunyai nomor gudep resmi. Berarti, sekolah itu mempunyai kewajiban untuk memelihara pangkalan pendidikan kepramukaan dengan kelengkapan ada pembina, peserta didik, tempat, administrasi, dan kegiatan. Kelengkapan itu secara rutin dilaporkan ke kwarcab melalui ranting masing-masing kecuali gudep perguruan tinggi yang dapat langsung ke kwarcab karena aturannya begitu. Kepala sekolah secara rutin mengecek kelangsungan gudep selaku ketua majelis gudep dan memberikan bantuan bimbingan, koordinasi, kebutuhan dana, perlengkapan, dan lainnya.

Latar belakang gudep berada di sekolah diawali oleh permintaan para pengelola sekolah untuk memudahkan pendidikan kepramukaan bagi siswanya. Awalnya, gudep berada di luar sekolah dan di luar keluarga, yakni gudep berada di masyarakat. Ada gudep yang berpangkalan di kantor desa, di kantor kecamatan, dan di mana saja yang dianggap layak. Peserta didiknya berasal dari berbagai kalangan sekolah dan berbagai lapisan masyarakat yang berlatih di gudep tersebut. Kemudian, agar siswa di sebuah sekolah dapat mudah berlatih tanpa harus jauh-jauh dan siswa lain juga dapat mengenyam kepramukaan karena sangat mulia tujuannya, para pemikir sekolah memberikan gagasan bahwa gudep sebaiknya di sekolah. Gagasan itu diwujudkan melalui kerja sama seperti yang dijelaskan di awal.

Kkeadaan berbalik. Gudep di masyarakat (teritorial) mulai susut bahkan tidak ada. Sementara, gudep di sekolah menjamur. Namun, apa dikata? Banyak gudep di sekolah hanya sebatas papan nama tanpa ada napas aktivitas.

Akibat dari itu, kondisi sekarang mulai berbalik lagi setelah banyak unsur masyarakat yang mulai mendirikan gudep sendiri akibat tidak puas dengan gudep di sekolah. Banyak koramil mendirikan gudep. RW juga mengadakan pelatihan kepramukaan. Ke depan, gudep di masyarakat akan semarak.

Mumpung belum semarak. Gudep sekolah perlu dibangunkan kembali dengan melalui sistem yang seirama dengan aturan kepramukaan. Kuncinya, kepala sekolah haruslah sadar diri atas tanggung jawab terhadap keberlangsungan Gerakan Pramuka di sekolah. Sanggupkah?

Senin, 13 Juni 2011

Desa Pramuka itu Bernama Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang

Tidak ada yang mengira kalau Desa Lebakharjo menjadi seramai dan semakmur seperti sekarang ini. Rumah penduduk rata-rata kokoh dengan polesan batu bata dan semen, bergaya modern, dan tampak asri. Sepeda motor penduduk berseliweran mengangkut rumput, padi, kayu, dan ke sawah. Mobil truk silih berganti mengangkut kayu, hasil panen, dan benih pohon jabon. Sanitasi tertata rapi, jalan tegak lurus, dan gapura gang tampak gagah. Kemudian, pepohonan menjulang rimbun membuat Desa Lebakharjo asri dan terkesan damai. Penduduk berkultur pramuka dari sopir sampai petani. Itulah Lebakharjo sekarang.

Keramahan yang tulus dibalut rasa persaudaraan melekat di tiap penduduk. Siapapun yang datang ke desa itu akan menemui keakraban warganya. Mereka seperti itu karena saat mudanya aktif di kepramukaan. bahkan, ada seorang kakek yang selalu mengikuti cucunya berlatih pramuka. Lalu, dari kejauhan sang kakek itu menitikkan air mata pertanda haru melihat cucunya meneruskan jejak sang kakek. Tiap penduduk sangat hafal yang namanya regu, barung, sangga, reka, ambalan, pasukan, dan istilah pramuka yang lainnya. Pokoknya, kepramukaan melekat erat dalam darah daging mereka.

Lebakharjo seperti itu bukan datang seketika melainkan karena proses yang dialaminya semenjak menjadi tuan rumah PW Aspac 1979, sebuah perkemahan wirakarya se-Asia Pacifik. Nenek moyangnya pernah menjadi tuan rumah perkemahan sekitar 3 bulan lebih, dari pra-PW sampai PW yang sebenarnya. Apalagi, tahun 1996, Desa Subur di pesisir selatan itu, menjadi tuan rumah Comdeca (Community Development camp) sedunia. Desa penghasil padi dan kopi itu telah dicatat di buku kepanduan dunia menjadi tempat bersejarah. Jika melihat pengalaman seperti itu, sangat layak jika dikatakan bahwa penduduknya sangat mendarah daging dengan kerpamukaan. Jadi, wajarlah kalau Desa Lebakharjo menjadi Desa Pramuka di Indonesia.

Desa itu sebelum PW ASPAC 1979 masih terlihat terisolasi dari desa lainnya. Jalan ke arah Malang harus dilalui jalan kaki karena tanjakan yang curam dan tebing dalam. Sungai Glidik yang berpangkal dari Gunung Semeru selalu membawa lahar dingin yang memindahkan aliran airnya ke kiri atau ke kanan. Penduduk asli tidak ada. Awal mula penduduk berasal dari daerah barat, yakni Ponorogo, pacitan, Blitar, Tulungagung, dan wilayah pantai lainnya yang datang melalui pantai Licin karena dari darat tidak dapat dimasuki. Sebelumnya, desa yang berpasir itu, tidak dialiri listrik. Sanitasi sangat buruk. Hasil pertanian membusuk karena tidak ada transportasi. Kesehatan warga rendah. Pendidikan tidak tersentuh. Penduduk Lebakharjo saat itu seperti suku terasing.

Kini, mereka menyatu menjadi penduduk Lebakharjo dengan warna budaya terpadu. Listrik cukup lincah memberikan sinarnya. Anak-anak kecil dengan mudah membeli jajan dari pelataran rumah karena penjajah makanan ramai menawarkan, seperti bakso, roti, sate, dan sebagainya. Televisi memberikan gambar siar dengan pancaran tajam. HP terlihat ditenteng warga sekalipun ke sawah meski hanya operator tertentu yang ada di sana. Sepeda motor aneka merk terlihat berderu di jalan beraspal. Sekolah SMP Negeri berdiri kokoh di lahan Comdeca 1996.

Desa Pramuka layak disandangkan di Desa Lebakharjo yang damai. Apalagi, jalan-jalan gang sejak lama bernama pramuka, seperti jalan siaga, jalan penggalang ramu, jalan penegak, jalan pembina, dan lainnya. Di pojok jalan terpampang berbagai tugu Dasadarma dan Pancasila. Terdapat rumah singgah Presiden RI waktu itu, Suharto, yang pernah menginap untuk membuka PW ASPAC dan Comdeca. Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuktikan pernyataannya bahwa pramuka harus juga membangun masyarakat melalui Desa Lebakharjo.

Sangatlah lumrah jika pada 18 Juni 2011, Kak Asrul, Kakwarnas Gerakan Pramuka, meninjau desa subur itu untuk menimbang apakah desa itu layak menjadi desa pramuka. Infrastrukturnya sangat kental dengan pramuka. Filosofis warga dalam membangun kehidupan berdasarkan prinsip kepramukaan. Tanah kenangan berinisial pramuka. Lalu, logo PW ASPAC dan Comdeca terpampang jelas di tembok sekolah dengan terawat. Layaklah Lebakharjo menjadi Desa Pramuka.

Langkah berikutnya, seluruh kru pramuka Indonesia harus bahu membahu mempromosikan Lebakharjo sebagai Desa Pramuka ke seantero negara. Biar dunia tahu bahwa penerus Baden Powell berada di pelosok negeri dengan jiwa persaudaraan pramuka sejati. Desa yang ditumbuhi aneka tanaman itu selanjutnya menjadi jujugan siapapun untuk menimba kesejatian hidup dengan warna pramuka. Suatu saat, Lebakharjo menjadi desa wisata pramuka. Semoga.