Tidak henti-hentinya Kwarda Jawa Timur menambah jumlah pelatih putri untuk mengisi kekosongan pelatih putri selama ini. KPD sebagai kursus bagi asisten pelatih dilaksanakan pada 18 s.d. 24 November 2011 di Pondok Putri Gontor 1 Mantingan Ngawi Jawa Timur dengan peserta 108. KPD dibagi ke dalam dua kelas, putra dan putri terpisah. KPD tersebut difasilitasi oleh 10 pelatih dari berbagai kwarcab di jawa Timur.
Kursus terlihat dinamis dengan ditandai oleh antusiasme peserta dalam mendalami dunia kepelatihan. Acara yang dibuka oleh waka kwardam kak Bambang SW itu terlihat bertumpu pada peserta sebagai subjek. Peserta tidak ada hentinya mendalami kepelatihan kepramukaan lewat tugas-tugas yang teramat menarik dan menantang. Apalagi, peserta juga membawa makalah yang ditulisnya untuk dipresentasikan di sela-sela kursus.
Dukunglah dengan semangat kibaran cita gerak pramuka bangsa ini. Berawallah dari segala penjuru demi maju dan bermutu pramuka Indonesia. Mulailah bergerak dalam riak hidup berbangsa Indonesia melalui dunia kepelatihan kepramukaan
Minggu, 20 November 2011
Mabi Kwarcab Banyuwangi Adakan Orientasi Kepramukaan
Para majelis pembimbing kwarcab Banyuwangi mendalami kepramukaan sampai tuntas pada Rabu, 17 November 2011 di Aula SMKN 1 Glagah Banyuwangi. Mereka terdiri atas para kapolsek, danramil, kepala dinas, kepala bagian, sekretaris kabupaten, istri bupati, dan pengurus kwarcab dengan serius mendalami UU Gerakan Pramuka, Fungsi Mabi, dan Pengelolaan Gugus Depan. Acara dimulai sejak pukul 9.00 sampai pukul 13.00 dengan pemateri Kak Purmadi dan Kak Suyatno dari Kwarda Jawa Timur.
Kak Purmadi, pada kesempatan itu, menegaskan kembali posisi Gerakan Pramuka dalam pembangunan karakter bangsa melalui eksplorasi isi UU Gerakan Pramuka. Kak Suyatno, selaku kapusdiklatda mengupas tentang latar belakang mengapa kepramukaan harus wajib diberikan ke anak-anak Indonesia. Dengan gaya yang khas, Kak Yatno, begitu biasa dipanggil, memotivasi para peserta agar teramat paham terhadap peran kepramukaan bagi penumbuhkembangan generasi di Indonesia, khususnya di Banyuwangi.
Kak Purmadi, pada kesempatan itu, menegaskan kembali posisi Gerakan Pramuka dalam pembangunan karakter bangsa melalui eksplorasi isi UU Gerakan Pramuka. Kak Suyatno, selaku kapusdiklatda mengupas tentang latar belakang mengapa kepramukaan harus wajib diberikan ke anak-anak Indonesia. Dengan gaya yang khas, Kak Yatno, begitu biasa dipanggil, memotivasi para peserta agar teramat paham terhadap peran kepramukaan bagi penumbuhkembangan generasi di Indonesia, khususnya di Banyuwangi.
Jumat, 11 November 2011
Pelatih Pembina Pramuka Ponorogo Lakukan Penyegaran pelatihi
Tiada hari tanpa belajar. Itulah pernyataan yang tepat untuk para pelatih pembina pramuka kwarcab Ponorogo. Betapa tidak. Sekitar 150 pelatih berkumpul di gedung Amarta kwarcab Ponorogo pada Selasa, 8 November 2011 untuk bersama-sama menyegarkan diri dalam topik Pelatihan Segmental, Pelatih Generasi K, dan Manajemen Risiko, yang difasilitasi oleh Dr. Suyatno, M.Pd. selaku Kapusdiklatda Kepramukaan Kwarda Jawa Timur dan Supari Singoputu, S.H. selaku andalan nasional bidang humas. Acara berlangsung dari pukul 8.30 s.d. 13.30 dengan suasana penuh dengan kebersamaan.
Penyegaran pelatih yang diikuti oleh generasi senior dan yunior itu dibuka oleh kakwarcab Ponorogo, Yuni Widyaningsih, S.H. Dalam sambutannya, kakwarcab yang pernah mengikuti jambore daerah itu menekankan bahwa pelatih itu harus tiada henti untuk belajar sehingga dicapai pembaharuan gerakan pramuka. "Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamangkubuwono IX juga tidak pernah berhenti untuk belajar", katanya.
Penyegaran pelatih yang diikuti oleh generasi senior dan yunior itu dibuka oleh kakwarcab Ponorogo, Yuni Widyaningsih, S.H. Dalam sambutannya, kakwarcab yang pernah mengikuti jambore daerah itu menekankan bahwa pelatih itu harus tiada henti untuk belajar sehingga dicapai pembaharuan gerakan pramuka. "Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamangkubuwono IX juga tidak pernah berhenti untuk belajar", katanya.
Senin, 25 Juli 2011
Gerakan Pramuka di Sekolah, Hidup Enggan Mati Tak Mau
Oleh Suyatno
Suatu ketika, seorang pembina pramuka di sekolah geleng-geleng kepala setelah melihat pendaftar ekstrakurikuler pramuka sangat sedikit, bahkan berada pada hitungan jari sepuluh jika dibandingkan dengan ekstrakurikuler lainnya, semisal basket, paskibraka, tari, KIR, dan lainnya. Hal itu terjadi hampir tiap tahun dan terus merosot jumlahnya sampai pada akhirnya ditutup atau ditiadakan untuk ekstrakurikuler Gerakan Pramuka. Lalu, dengan bangganya, kepala sekolah menyatakan, “Di sekolah kami, pramuka tidak diminati”. Pernyataan itu diamini oleh guru-guru lainnya. Sempurnalah, Gerakan Pramuka telah mati di sekolah.
Jika merunut ke belakang, setelah ditandatangani kerjasama antara dirjen dikdasmen (waktu itu) depdikbud dan kakwarnas di tahun 1975, Gerakan Pramuka wajib ada di sekolah sebagai wadah pembinaan kepramukaan yang berpangkalan di sekolah. Kerjasama itu sampai sekarang tidak pernah dicabut. Bahkan, Gerakan Pramuka di sekolah semakin dikuatkan UU no 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, dokumen KTSP, dan kerjasama lima menteri, yang di dalamnya terdapat menteri pendidikan. Artinya, Gerakan Pramuka wajib di selenggarakan di pangkalan sekolah, baik dari SD, SMP/MTs/SMA/MA/SMK. Bahkan, di perguruan tinggi, Gerakan Pramuka juga wajib diselenggarakan setelah lahir surat kerjasama dirjen dikti dengan kakwarnas tahun 1981.
Jadi, tampaklah jelas bahwa Gerakan Pramuka bukan ekstrakurikuler yang disamakan dengan kegiatan lainnya. Jika disamakan, tentu, Gerakan Pramuka tidak akan diminati karena sifatnya yang tidak mendatangkan prestasi, tidak ada pergelaran, dan tidak instan. Gerakan Pramuka bersifat pendidikan nilai yang berprinsip pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga. Gerakan Pramuka lebih pada melengkapi pendidikan formal di bangku sekolah dengan menitikberatkan pada pendidikan alam terbuka dan kemasyarakatan.
Bisa jadi, siswa yang ikut ekstrakurikuler basket juga harus aktif di Gerakan Pramuka pangkalan sekolah sehingga akan menjadi pebasket yang jujur, berani, ksatria, dan lainnya yang sesuai dengan kode etik Gerakan Pramuka. Begitu pula, siswa yang turut serta di ekstra selain basket, dia akan mempunyai nilai yang kuat untuk bekal hidupnya kelak. Nilai itu didapatkan dari keikutsertaannya di pangkalan Gerakan Pramuka di sekolah yang lazimnya disebut gugusdepan (gudep).
Tentu, ke depan, para kepala sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan di satuannya, yang juga disebut sebagai ketua majelis pembimbing gudep, harus mengubah paradigma kepramukaan di sekolah. Kepala sekolah tidak dapat tinggal diam kenyataan yang terjadi di sekolahnya berkaitan dengan Gerakan Pramuka.
Sebuah sekolah, sebut saja SMA Dul-Dul, telah mempunyai nomor gudep resmi. Berarti, sekolah itu mempunyai kewajiban untuk memelihara pangkalan pendidikan kepramukaan dengan kelengkapan ada pembina, peserta didik, tempat, administrasi, dan kegiatan. Kelengkapan itu secara rutin dilaporkan ke kwarcab melalui ranting masing-masing kecuali gudep perguruan tinggi yang dapat langsung ke kwarcab karena aturannya begitu. Kepala sekolah secara rutin mengecek kelangsungan gudep selaku ketua majelis gudep dan memberikan bantuan bimbingan, koordinasi, kebutuhan dana, perlengkapan, dan lainnya.
Latar belakang gudep berada di sekolah diawali oleh permintaan para pengelola sekolah untuk memudahkan pendidikan kepramukaan bagi siswanya. Awalnya, gudep berada di luar sekolah dan di luar keluarga, yakni gudep berada di masyarakat. Ada gudep yang berpangkalan di kantor desa, di kantor kecamatan, dan di mana saja yang dianggap layak. Peserta didiknya berasal dari berbagai kalangan sekolah dan berbagai lapisan masyarakat yang berlatih di gudep tersebut. Kemudian, agar siswa di sebuah sekolah dapat mudah berlatih tanpa harus jauh-jauh dan siswa lain juga dapat mengenyam kepramukaan karena sangat mulia tujuannya, para pemikir sekolah memberikan gagasan bahwa gudep sebaiknya di sekolah. Gagasan itu diwujudkan melalui kerja sama seperti yang dijelaskan di awal.
Kkeadaan berbalik. Gudep di masyarakat (teritorial) mulai susut bahkan tidak ada. Sementara, gudep di sekolah menjamur. Namun, apa dikata? Banyak gudep di sekolah hanya sebatas papan nama tanpa ada napas aktivitas.
Akibat dari itu, kondisi sekarang mulai berbalik lagi setelah banyak unsur masyarakat yang mulai mendirikan gudep sendiri akibat tidak puas dengan gudep di sekolah. Banyak koramil mendirikan gudep. RW juga mengadakan pelatihan kepramukaan. Ke depan, gudep di masyarakat akan semarak.
Mumpung belum semarak. Gudep sekolah perlu dibangunkan kembali dengan melalui sistem yang seirama dengan aturan kepramukaan. Kuncinya, kepala sekolah haruslah sadar diri atas tanggung jawab terhadap keberlangsungan Gerakan Pramuka di sekolah. Sanggupkah?
Senin, 13 Juni 2011
Desa Pramuka itu Bernama Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang
Tidak ada yang mengira kalau Desa Lebakharjo menjadi seramai dan semakmur seperti sekarang ini. Rumah penduduk rata-rata kokoh dengan polesan batu bata dan semen, bergaya modern, dan tampak asri. Sepeda motor penduduk berseliweran mengangkut rumput, padi, kayu, dan ke sawah. Mobil truk silih berganti mengangkut kayu, hasil panen, dan benih pohon jabon. Sanitasi tertata rapi, jalan tegak lurus, dan gapura gang tampak gagah. Kemudian, pepohonan menjulang rimbun membuat Desa Lebakharjo asri dan terkesan damai. Penduduk berkultur pramuka dari sopir sampai petani. Itulah Lebakharjo sekarang.
Keramahan yang tulus dibalut rasa persaudaraan melekat di tiap penduduk. Siapapun yang datang ke desa itu akan menemui keakraban warganya. Mereka seperti itu karena saat mudanya aktif di kepramukaan. bahkan, ada seorang kakek yang selalu mengikuti cucunya berlatih pramuka. Lalu, dari kejauhan sang kakek itu menitikkan air mata pertanda haru melihat cucunya meneruskan jejak sang kakek. Tiap penduduk sangat hafal yang namanya regu, barung, sangga, reka, ambalan, pasukan, dan istilah pramuka yang lainnya. Pokoknya, kepramukaan melekat erat dalam darah daging mereka.
Lebakharjo seperti itu bukan datang seketika melainkan karena proses yang dialaminya semenjak menjadi tuan rumah PW Aspac 1979, sebuah perkemahan wirakarya se-Asia Pacifik. Nenek moyangnya pernah menjadi tuan rumah perkemahan sekitar 3 bulan lebih, dari pra-PW sampai PW yang sebenarnya. Apalagi, tahun 1996, Desa Subur di pesisir selatan itu, menjadi tuan rumah Comdeca (Community Development camp) sedunia. Desa penghasil padi dan kopi itu telah dicatat di buku kepanduan dunia menjadi tempat bersejarah. Jika melihat pengalaman seperti itu, sangat layak jika dikatakan bahwa penduduknya sangat mendarah daging dengan kerpamukaan. Jadi, wajarlah kalau Desa Lebakharjo menjadi Desa Pramuka di Indonesia.
Desa itu sebelum PW ASPAC 1979 masih terlihat terisolasi dari desa lainnya. Jalan ke arah Malang harus dilalui jalan kaki karena tanjakan yang curam dan tebing dalam. Sungai Glidik yang berpangkal dari Gunung Semeru selalu membawa lahar dingin yang memindahkan aliran airnya ke kiri atau ke kanan. Penduduk asli tidak ada. Awal mula penduduk berasal dari daerah barat, yakni Ponorogo, pacitan, Blitar, Tulungagung, dan wilayah pantai lainnya yang datang melalui pantai Licin karena dari darat tidak dapat dimasuki. Sebelumnya, desa yang berpasir itu, tidak dialiri listrik. Sanitasi sangat buruk. Hasil pertanian membusuk karena tidak ada transportasi. Kesehatan warga rendah. Pendidikan tidak tersentuh. Penduduk Lebakharjo saat itu seperti suku terasing.
Kini, mereka menyatu menjadi penduduk Lebakharjo dengan warna budaya terpadu. Listrik cukup lincah memberikan sinarnya. Anak-anak kecil dengan mudah membeli jajan dari pelataran rumah karena penjajah makanan ramai menawarkan, seperti bakso, roti, sate, dan sebagainya. Televisi memberikan gambar siar dengan pancaran tajam. HP terlihat ditenteng warga sekalipun ke sawah meski hanya operator tertentu yang ada di sana. Sepeda motor aneka merk terlihat berderu di jalan beraspal. Sekolah SMP Negeri berdiri kokoh di lahan Comdeca 1996.
Desa Pramuka layak disandangkan di Desa Lebakharjo yang damai. Apalagi, jalan-jalan gang sejak lama bernama pramuka, seperti jalan siaga, jalan penggalang ramu, jalan penegak, jalan pembina, dan lainnya. Di pojok jalan terpampang berbagai tugu Dasadarma dan Pancasila. Terdapat rumah singgah Presiden RI waktu itu, Suharto, yang pernah menginap untuk membuka PW ASPAC dan Comdeca. Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuktikan pernyataannya bahwa pramuka harus juga membangun masyarakat melalui Desa Lebakharjo.
Sangatlah lumrah jika pada 18 Juni 2011, Kak Asrul, Kakwarnas Gerakan Pramuka, meninjau desa subur itu untuk menimbang apakah desa itu layak menjadi desa pramuka. Infrastrukturnya sangat kental dengan pramuka. Filosofis warga dalam membangun kehidupan berdasarkan prinsip kepramukaan. Tanah kenangan berinisial pramuka. Lalu, logo PW ASPAC dan Comdeca terpampang jelas di tembok sekolah dengan terawat. Layaklah Lebakharjo menjadi Desa Pramuka.
Langkah berikutnya, seluruh kru pramuka Indonesia harus bahu membahu mempromosikan Lebakharjo sebagai Desa Pramuka ke seantero negara. Biar dunia tahu bahwa penerus Baden Powell berada di pelosok negeri dengan jiwa persaudaraan pramuka sejati. Desa yang ditumbuhi aneka tanaman itu selanjutnya menjadi jujugan siapapun untuk menimba kesejatian hidup dengan warna pramuka. Suatu saat, Lebakharjo menjadi desa wisata pramuka. Semoga.
Keramahan yang tulus dibalut rasa persaudaraan melekat di tiap penduduk. Siapapun yang datang ke desa itu akan menemui keakraban warganya. Mereka seperti itu karena saat mudanya aktif di kepramukaan. bahkan, ada seorang kakek yang selalu mengikuti cucunya berlatih pramuka. Lalu, dari kejauhan sang kakek itu menitikkan air mata pertanda haru melihat cucunya meneruskan jejak sang kakek. Tiap penduduk sangat hafal yang namanya regu, barung, sangga, reka, ambalan, pasukan, dan istilah pramuka yang lainnya. Pokoknya, kepramukaan melekat erat dalam darah daging mereka.
Lebakharjo seperti itu bukan datang seketika melainkan karena proses yang dialaminya semenjak menjadi tuan rumah PW Aspac 1979, sebuah perkemahan wirakarya se-Asia Pacifik. Nenek moyangnya pernah menjadi tuan rumah perkemahan sekitar 3 bulan lebih, dari pra-PW sampai PW yang sebenarnya. Apalagi, tahun 1996, Desa Subur di pesisir selatan itu, menjadi tuan rumah Comdeca (Community Development camp) sedunia. Desa penghasil padi dan kopi itu telah dicatat di buku kepanduan dunia menjadi tempat bersejarah. Jika melihat pengalaman seperti itu, sangat layak jika dikatakan bahwa penduduknya sangat mendarah daging dengan kerpamukaan. Jadi, wajarlah kalau Desa Lebakharjo menjadi Desa Pramuka di Indonesia.
Desa itu sebelum PW ASPAC 1979 masih terlihat terisolasi dari desa lainnya. Jalan ke arah Malang harus dilalui jalan kaki karena tanjakan yang curam dan tebing dalam. Sungai Glidik yang berpangkal dari Gunung Semeru selalu membawa lahar dingin yang memindahkan aliran airnya ke kiri atau ke kanan. Penduduk asli tidak ada. Awal mula penduduk berasal dari daerah barat, yakni Ponorogo, pacitan, Blitar, Tulungagung, dan wilayah pantai lainnya yang datang melalui pantai Licin karena dari darat tidak dapat dimasuki. Sebelumnya, desa yang berpasir itu, tidak dialiri listrik. Sanitasi sangat buruk. Hasil pertanian membusuk karena tidak ada transportasi. Kesehatan warga rendah. Pendidikan tidak tersentuh. Penduduk Lebakharjo saat itu seperti suku terasing.
Kini, mereka menyatu menjadi penduduk Lebakharjo dengan warna budaya terpadu. Listrik cukup lincah memberikan sinarnya. Anak-anak kecil dengan mudah membeli jajan dari pelataran rumah karena penjajah makanan ramai menawarkan, seperti bakso, roti, sate, dan sebagainya. Televisi memberikan gambar siar dengan pancaran tajam. HP terlihat ditenteng warga sekalipun ke sawah meski hanya operator tertentu yang ada di sana. Sepeda motor aneka merk terlihat berderu di jalan beraspal. Sekolah SMP Negeri berdiri kokoh di lahan Comdeca 1996.
Desa Pramuka layak disandangkan di Desa Lebakharjo yang damai. Apalagi, jalan-jalan gang sejak lama bernama pramuka, seperti jalan siaga, jalan penggalang ramu, jalan penegak, jalan pembina, dan lainnya. Di pojok jalan terpampang berbagai tugu Dasadarma dan Pancasila. Terdapat rumah singgah Presiden RI waktu itu, Suharto, yang pernah menginap untuk membuka PW ASPAC dan Comdeca. Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuktikan pernyataannya bahwa pramuka harus juga membangun masyarakat melalui Desa Lebakharjo.
Sangatlah lumrah jika pada 18 Juni 2011, Kak Asrul, Kakwarnas Gerakan Pramuka, meninjau desa subur itu untuk menimbang apakah desa itu layak menjadi desa pramuka. Infrastrukturnya sangat kental dengan pramuka. Filosofis warga dalam membangun kehidupan berdasarkan prinsip kepramukaan. Tanah kenangan berinisial pramuka. Lalu, logo PW ASPAC dan Comdeca terpampang jelas di tembok sekolah dengan terawat. Layaklah Lebakharjo menjadi Desa Pramuka.
Langkah berikutnya, seluruh kru pramuka Indonesia harus bahu membahu mempromosikan Lebakharjo sebagai Desa Pramuka ke seantero negara. Biar dunia tahu bahwa penerus Baden Powell berada di pelosok negeri dengan jiwa persaudaraan pramuka sejati. Desa yang ditumbuhi aneka tanaman itu selanjutnya menjadi jujugan siapapun untuk menimba kesejatian hidup dengan warna pramuka. Suatu saat, Lebakharjo menjadi desa wisata pramuka. Semoga.
Jumat, 08 April 2011
Simpul dan Ikatan dalam Dunia Tali-Temali Pramuka
Pramuka tentu tidak asing dengan tali-temali dalam kegiatan di alam bebeasnya. Dalam tali temali kita sering mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini sebenarnya berbeda sama sekali. Tali adalah bendanya. Simpul adalah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.
Macam simpul dan kegunaannya
1. Simpul ujung tali
Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas
2. Simpul mati
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin
3. Simpul anyam
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering
4. Simpul anyam berganda
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan basah
5. Simpul erat
Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan
6. Simpul kembar
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin
7. Simpul kursi
Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan
8. Simpul penarik
Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar
9. Simpul laso
Untuk gambar macam-macam simpul dapat dilihat di bawah ini
Macam simpul dan kegunaannya
1. Simpul ujung tali
Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas
2. Simpul mati
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin
3. Simpul anyam
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering
4. Simpul anyam berganda
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan basah
5. Simpul erat
Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan
6. Simpul kembar
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin
7. Simpul kursi
Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan
8. Simpul penarik
Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar
9. Simpul laso
Untuk gambar macam-macam simpul dapat dilihat di bawah ini
Macam Ikatan dan Kegunaannya
1. Ikatan pangkal
Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan pangkal ini dapat juga
digunakan untuk memulai suatu ikatan.
2. Ikatan tiang
Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak leluasa misalnya
untuk mengikat leher binatang supaya tidak tercekik.
3. Ikatan jangkar
Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.
4. Ikatan tambat
Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.
5. Ikatan tarik
Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada suatu tiang, kemudian mudah untuk
membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.
6. Ikatan turki
Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher
7. Ikatan palang
8. Ikatan canggah
9. Ikatan silang
10. Ikatan khaki tiga
Untuk gambar macam-macam ikatan dapat dilihat di bawah ini.
Selasa, 29 Juni 2010
Materi Lomba LTIV Jawa Timur
Kelompok Materi Lomba LT IV terdiri atas:
1. Perkemahan
a) kontruksi tenda (kekokohan, ketahanan, fungsi tenda)
b) pelengkap tenda (jemuran, rak sepatu, meja makan, tempat sampah, toilet regu, pagar, dapur, sanitasi, lampu, dan kenyamanan)
c) kehidupan berkemah (bertetangga, menerima tamu, mencatat buku harian regu, shalat, upacara, rapat, dan olahraga)
2. Wawasan Kebangsaan dan Ipteks (sejarah bangsa, dinamika bangsa, negara sahabat, organisasi kepramukaan, pengetahuan umum, teknologi, dan budaya)
3. Keterampilan Manajerial dan Administrasi Regu (notulen rapat, administrasi regu, pengaturan rapat, dokumen regu)
4. Dinamika Regu (yel, lagu, gerak, sandi, nama, daya tanggap, gesit, keceriahan, kekompakan, kedisiplinan, dan kerjasama)
5. Prestasi dan percaya diri (pioneering, pidato, english corner, pentas seni, baca puisi, TTG, desain blog di internet, jurnalistik, asah otak, debat, poster, pengamatan lingkungan, majalah dinding, bernyanyi, daur ulang kertas bekas).
6. Kesamaptaan dan tantangan regu (jawing, berlari, merangkak, estafet, mengayun, mencari bendera)
7. Olahraga (senam pramuka, memimpin senam)
8. Scouting Skill dalam Safari Camp (packaging, bivoac, menjelajah, sandi, semapor, morse, peta pita, gambar peta, kompas, memasak, PPGD)
9. Komunikasi (Komunikasi SMS dan radio FM). Materi lomba ini berupa dinamika kebangsaan Indonesia dan tidak terjadwal karena akan dilaksanakan setiap saat melalui radio LT IV yang mengudara tiap waktu terutama saat istirahat pagi, siang, sore, dan malam.
10. Forum Penggalang
a. Menyusun laporan
b. Presentasi gagasan
c. Menanggapi gagasan
d. Menyusun rekomendasi
1. Perkemahan
a) kontruksi tenda (kekokohan, ketahanan, fungsi tenda)
b) pelengkap tenda (jemuran, rak sepatu, meja makan, tempat sampah, toilet regu, pagar, dapur, sanitasi, lampu, dan kenyamanan)
c) kehidupan berkemah (bertetangga, menerima tamu, mencatat buku harian regu, shalat, upacara, rapat, dan olahraga)
2. Wawasan Kebangsaan dan Ipteks (sejarah bangsa, dinamika bangsa, negara sahabat, organisasi kepramukaan, pengetahuan umum, teknologi, dan budaya)
3. Keterampilan Manajerial dan Administrasi Regu (notulen rapat, administrasi regu, pengaturan rapat, dokumen regu)
4. Dinamika Regu (yel, lagu, gerak, sandi, nama, daya tanggap, gesit, keceriahan, kekompakan, kedisiplinan, dan kerjasama)
5. Prestasi dan percaya diri (pioneering, pidato, english corner, pentas seni, baca puisi, TTG, desain blog di internet, jurnalistik, asah otak, debat, poster, pengamatan lingkungan, majalah dinding, bernyanyi, daur ulang kertas bekas).
6. Kesamaptaan dan tantangan regu (jawing, berlari, merangkak, estafet, mengayun, mencari bendera)
7. Olahraga (senam pramuka, memimpin senam)
8. Scouting Skill dalam Safari Camp (packaging, bivoac, menjelajah, sandi, semapor, morse, peta pita, gambar peta, kompas, memasak, PPGD)
9. Komunikasi (Komunikasi SMS dan radio FM). Materi lomba ini berupa dinamika kebangsaan Indonesia dan tidak terjadwal karena akan dilaksanakan setiap saat melalui radio LT IV yang mengudara tiap waktu terutama saat istirahat pagi, siang, sore, dan malam.
10. Forum Penggalang
a. Menyusun laporan
b. Presentasi gagasan
c. Menanggapi gagasan
d. Menyusun rekomendasi
Langganan:
Postingan (Atom)



