Kamis, 24 November 2011

Memaknai Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka

Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka merupakan salah satu metode kepramukaan di samping metode yang lainnya yang mampu membawa peserta didik ke tingkat pemahaman yang kuat. Namun, saat ini, kiasan dasar hanya dimaknai sebagai simbol sejarah bangsa, dengan istilah siaga, penggalang, penegak, dan pandega sebagai wujud pergerakan nasional. Padahal, kiasan dasar merupakan terjemahan dari simbolic framework sebagai metode yang harus digunakan secara aplikatif dalam kegiatan kepramukaan. 


Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah karena manusia mampu berinteraksi melalui simbol-simbol. George Herbert Mead bahkan menemukan suatu Teori interaksionisme simbolik, yakni bahwa adaptasi manusia terhadap dunia luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang tidak hanya sekedar respons yang bersifat reflektif dari organisme terhadap rangsangan lingkungan. Proses komunikasi tersebut dapat digambarkan dalam gestural conversation (bahasa isyarat). Sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama memungkinkan terjadinya symbolic communication (komunikasi simbol), komunikasi simbol ini selanjutnya menjadi suatu kata-kata (simbol suara yang mengandung arti yang dimengerti bersama), dan akhirnya menjadi bahasa.

Manusia dapat menulis huruf yang disebut gambar bunyi yang merupakan simbol-simbol. Manusia dapat pula mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dengan melalui pengembangan simbol-simbol. Hal ini dapat kita maklumi bagaimana seandainya orang harus mengerjakan atau bahkan hanya sekedar membaca rumus matematika, atau IPA, yang rumit dengan secara tekstular, pasti akan menjadi sangat sulit sekali, dan bahkan tidak akan mungkin untuk dapat dikembangkan. 

Manusia bahkan dapat berbicara lewat hati dan pikirannya dengan simbol-simbol melampaui batas ruang dan waktu. Bahkan ketika tidurpun manusia bisa berbicara dengan simbol-simbol. Manusia melalui rasa dan karsanya dapat membayangkan dan memprogramkan sesuatu yang belum terjadi melalui simbol-simbol. 

Nenek moyang kita mengarungi lautan menggunakan bintang-bintang tertentu sebagai simbol penunjuk arah,  petani ketika ia akan menanam padi menggunakan ”kolo-mongso” yang merupakan simbol-simbol. Untuk memilih jodoh, atau teman yang baik telah ada rumusannya dalam di setiap budaya daerah dengan simbol-simbolnya masing-masing. Di dalam kisah pewayangan orang-orang yang bijaksana disimbolkan dengan warna wajah yang hitam atau kuning dengan mulut tertutup dan muka sedikit menunduk, sedangkan orang-orang yang serakah, kejam, pendengki, digambarkan dengan wajah merah, mulut sedikit terbuka dan kepala agak tengadah. Ini semua hanya gambaran kecil suatu komunikasi dengan simbol-simbol. Interaksionisme simbolik adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. 

Mead (dalam Doyle Paul Johnson, 1990: 14 – 25)  bahkan mengatakan bahwa symbolic-frame  ini bahkan dapat mempengaruhi proses berpikir manusia. Dalam hal komunikasi (intra-personal; inter-personal; maupun mass-comunication), kiasan dasar dapat menentukan “konsep diri”.  Melalui interaksionisme simbolik seseorang dapat menentukan konsep-dirinya sebagai subjek ( I ) yang bertindak atas nama dirinya untuk orang lain; dan sebaliknya dapat menjadikan dirinya sebagai objek (me) yang merefleksikan dirinya bertindak atas nama orang lain untuk dirinya sendiri, inilah selanjutnya yang di dalam masyarakat kita disebut dengan “kontrol diri”.

Kiasan Dasar sebagai suatu halaman komunikasi manusia yang telah terpilih, (symbolic-frame), maka ia  dapat ditumbuhi berbagai metode sebagaimana:  
a.    Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b.    belajar sambil melakukan (learning by doing);
c.    sistem berkelompok (sistem beregu);
d.    kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik.
e.    kegiatan di alam terbuka;
f.    sistem tanda kecakapan;
g.    sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;bahkan kiasan dasar sendiri yang dalam arti sempit sebagai:
h.    kiasan dasar; (yakni penyelenggaraan kepramukaan yang dikemas dengan kias yang bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa).

Kiasan Dasar dalam Gerakan Pramuka sebagai wahana komunikasi, nampak seiring dengan hakekat  tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Spencer, 1989 (dalam Nasution 1982: 35-36). Menurut Spencer (1989), bahwa hakekat tujuan pendidikan adalah:
a.    self-preservation, yakni dengan pendidikan manusia harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara hidup sehat, mencegah penyakit, hidup teratur dan sebagainya;
b.    securing the necessity of life, manusia harus sanggup mencari nafkahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan suatu pekerjaan; 
c.    rearing a family, sesorang nantinya akan menjadi “ibu” atau “bapak” yang sanggup bertanggung-jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya; 
d.    maintaining proper social and political relationship, setiap manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara, oleh karenanya ia harus bergaul, rela bekerja-sama dengan orang lain serta memenuhi kewajibannya sebagai warga negara;
e.    enjoying leisure time, manusia harus sanggup dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.  

Kiasan Dasar dapat membangkitkan kemampuan alamiah bagi anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa akan imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan petualangan dengan cara:
a.    Menstimulasi perkembangan peserta didik ke dalam berbagai dimensi (dimensi: filosofis, psikologis, sosial dan budaya).
b.    Membantu mengenali nilai-nilai kepramukaan.
c.    Membantu membangun jati dan pengembangan diri.
d.    Membantu membangun persatuan dan solidaritas kelompok. 

Kiasan Dasar Dalam Gerakan Pramuka
Max Weber seorang sosiolog ternama di era sosiologi klasik sekaligus peletak dasar metodologi Ilmu Sosial mengatakan bahwa orang tidak boleh mulai suatu definisi, melainkan perlu menurunkan indikator-indikator definisi itu sesuai contoh-contoh khusus, yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi definisi akhir, melainkan sebuah definisi yang dicocokkan dengan maksud-maksud atau peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh karena itu di dalam Gerakan Pramuka baik dari namanya, kegiatannya selalu memberikan nuansa pendidikan, romantisme, dan cocok dengan maksud dan peristiwa baik yang telah, yang sedang dan bahkan yang akan dihadapi. 

Penerapan kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka yang keanggotaannya digolongkan menurut usia, menggunakan kiasan-dasar sebagai dimensi filosofis dalam mencapai visi dan misi yang diembannya. 

Nama-nama peserta didik di awal berdirinya kepramukaan dunia, yang sampai saat ini masih digunakan sebagai contoh anggota Siaga di sana disebut Cub artinya anak srigala mengkiaskan kemanjaan, keceriaan, selalu mengikuti induknya ke mana pergi, tetapi senantiasa belajar untuk mandiri. 

Adapun anggota Penggalang disebut Scout adalah mengkiaskan keperwiraan, kesatriaan. 
Anggota Pramuka Penegak disebut Rover mengkiaskan seorang pengembara yang ingin senantiasa belajar, mencari jati diri, dan mencoba membaktikan diri kepada masyarakat.    

Di Indonesia pemilihan nama-nama bagi peserta didik, jauh lebih memberikan makna bagi pendidikan. Dipilihnya nama-nama peserta didik adalah mengkiaskan tahapan perjuangan Bangsa Indonesia, hingga saat ini. 

Nama Siaga mengkiaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari munculnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada tanggal 20 Mei tahun 1908, bertepatan dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo, yang memiliki sifat nasional, di mana bangsa Indonesia telah mensiagakan diri, mendidik diri, memulai menyentuh wawasan kebangsaan. 

Diungkapkannya nama Penggalang mengkiaskan suatu tahapan kisah perjuangan pergerakan bangsa Indonesia yang sudah memulai menggalang persatuan dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. 

Nama Penegak dimaknakan sebagai akumulasi perjuangan pergerakkan kemerdekaan Indonesia di mana bangsa Indonesia menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Sedangkan dipilihnya nama Pandega mengkiaskan tahapan perjuangan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yakni seluruh rakyat harus mandegani NKRI yakni mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan. 
   
Kiasan dasar nampak sekali dalam berbagai formasi barisan dalam kegiatan  “upacara pembukaan dan penutupan latihan” yang berbeda di antara masing-masing golongan (S, G, T, D). Perbedaan ini bukan asal berbeda tetapi oleh para founding-fathers kita sudah dipikirkan sedemikan rupa, dikiaskan padanannya sebagai alat pendidikan dan kebanggaan, diolah, diperdalam sehingga memiliki makna flosofis yang sangat kuat, yang mendera kepribadian sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di masing-masing golongan tersebut.

Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Siaga yang berbentuk bulat, sedangkan Pembina berdiri di-tengah-tengahnya” melambangkan bahwa pada usia 7 – 10 tahun Pembina merupakan “Focus of Interest”. Pada formasi tertutup ini, Pramuka Siaga dimaksudkan agar dalam menyerap nilai-nilai sosial, nilai relegiuos, nilai-nilai budaya tidak melalui dunia luar tetapi melalui pribadi Pembinanya. Pada usia tersebut, di mana dasar-dasar penanaman nilai-nilai cinta-bangsa, cinta tanah-air, cinta bahasa merupakan sesuatu yang sangat vital, sedangkan anak-anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi perkembangan jiwanya, oleh karena itu bagi anak Siaga dalam menyerap nilai-nilai (value system) cukuplah sementara melalui  komunitas sosial Gerakan Pramuka.

Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penggalang berbentuk Angkare atau huruf U, dan Pembina berdiri di tengah di depan barisan”. Di sini melambangkan bahwa peserta didik sudah diberi kesempatan melihat dunia luar dalam menyerap nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia, lewat Pembinanya.  

Formasi barisan pada “Upacara Pembukaan Latihan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk lidi, di mana Pembina berdiri pada deretan lidi tersebut” Hal ini melambangkan bahwa pada usia 16 sampai dengan 25 tahun peserta didik sudah diberi keleluasaan sepenuhnya untuk mencari sendiri nilai-nilai luhur tersebut sebagai bagian dari character building  melalui pengalamannya sendiri, sedangkan Pembina lebih banyak “Tut wuri handayani”. 

Dalam setiap proses penyelenggaraan kegiatan kepramukaan selalu terjalin 5 unsur yang terpadu  yakni:
    Prinsip Dasar Kepramukaan
    Metode Kepramukaan
    Kode Kehormatan
    Motto Gerakan Pramuka
    Kiasan Dasar Gerakan Pramuka.

Kiasan Dasar sebagai symbolic frame  berperan mendukung konsistensi kehidupan peserta didik dalam kelompok kecil (Barung, Regu, Sangga, Reka), sebagai suatu ikatan pendekatan kelompok (small unit approach), maupun dalam ikatan kelompok yang lebih besar dalam kehidupan di perindukan, pasukan, ambalan, racana maupun di masyarakat. 

Penutup
Kiasan dasar merupakan referensi penyerapan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, yang dikembangkan dalam pendidikan/pembelajaran yang dinamik sehingga langsung menyentuh lubuk hati peserta didik.  

Tidak ada komentar: